Tuesday, December 4, 2012

Sacco E Vanzetti (1971) Review.



Here's to you, Nicola and Bart.



Berawal dari iseng2 nonton trailer Metal Gear Solid: Ground Zeroes di yutub, gw yang lagi bad mood kepikiran engga punya duit buat beli harddisk eksternal tiba2 terperangah sama itu trailer game yang katanya akan rilis di PS4.  Trailernya sendiri mungkin bisa dibilang sebagai teaser trailer yang bener2 bikin gw mupeng setengah mati, jadi tukang copet dalam wc umum pun gw rela asal bisa kemainin MGS: GZ, trailernya keren bang sumpeh, ada bapaks2 yang jalan ke  markas militer terus ngeberi tape recorded ke seorang anak yang dikurung dalam sebuah kandang ayam kurungan (belakangan anak itu diketauhi bernama Timothy S).  Setelah bapaks2 itu ngomong sesuatu ke anaks2 itu, si anak muter tape recorder itu, dan entah kenapa, lagu yang diputer di tape recorded itu membuat trailer game ajaib ini jadi makin ajaib.  Beneran dah, itu lagunya epic bener, dinyanyiin ama Joan Baez dan musiknya dibikin ama Ennio Morricone (bos guru Hans Zimmer lo). ini trailernya:



Lagunya berjudul Here's to you, dan gw baru tau ternyata lagu tersebut merupakan OST sebuah film yang berjudul Sacco E Vanzetti.  Entah apa yang merasuki Hideo Kojima sampai memasukan lagu dari film ga jelas yang jadulnya udah kelewat jadul, tapi jujur, mungkin tanpa lagu itu, gw ga akan nonton Sacco E Vanzetti, sebuah film yang merubah pikiran gw  tentang apa arti sebuah anarkisme, dan ingat, review ini mengandung spoiler, tapi menurut gw, ini kan film based on true story, jadi di spoiler pun kayaknya gak apa2 deh, iya gaks eh, iya gak?

Nicola Sacco (Riccardo Cucciolla) dan Bartolomeo Vanzetti (Gian Maria Volonte) merupakan dua orang anarkis yang sebenarnya hanyalah anarkis unyu biasa dan berasal dari italia.  Mereka bedua dituduh telah membunuh sekaligus merampok sebuah pabrik sepatu dan akan segera dijatuhi hukuman mati.  Apakah Sacco dan Vanzetti benar2 melakukan perbuatan jahat tak termaafkan itu, atau mereka bedua hanyalah korban dari kehipokritan pemerintah pada jaman dulu?


Top 8 lagu yang sering diputer di henpon gw, entah kenapa malah ke aplod kesini

Mendengar kata anarkis, pastilah yang pertama kali masuk kedalam pikiran kita adalah sebuah kekacauan dan ketidakdewasaan diri yang tiada tara, tapi semenjak gw menonton Sacco E Vanzetti, pandangan gw terhadap anarkis berubah.  Sacco E Vanzetti menghadirkan sebuah courtroom-drama yang menonjolkan sisi siapakah sebenarnya kita, apakah kita berani untuk menunjukan siapa diri kita sebenarnya, apakah kita berani untuk membuka topeng kita di khalayak umum, apakah kita masih memakai topeng kepalsuan yang menyembunyikan dasar dari segala rasa kemaluan kita.  Nicola Sacco dan Bart Vanzetti merupakan 2 figur yang berpegang teguh pada kebenaran sampai akhir hayat mereka, mereka sendiri mengatakan bahwa mereka adalah anarkis, mereka gak malu mengakui kalo mereka sebenarnya anarki, mereka memiliki persepsi berbeda terhadap anarki yang mereka lakukan, dan iyah, setiap perkataan Saco dan Vanzetti disini bener2 membuat gw tergugah dengan isi pikiran mereka itu.



Kejujuran merupakan sebuah pesan moral yang paling utama disini, dan film Sacco E Vanzetti merupakan  salah satu film paling jujur yang pernah gw liat, sederhana dan jelek, jelek dalam artian penyampainnya yang masih kurang dan klimaksnya yang benar2 dangkal. Tapi materi dan isi cerita yang ada disini bener2 emotionally faktap blowing to be exact, faktap karena setiap perkatan Vanzetti disini bener2 membuat gw terperangah dan merasa simpatik dengan nasib malang mereka berdua yang telah menjadi korban sebuah kemunafikan pemerintah yang bener2 memuakan.




Terlepas dari penyajiannya sendiri yang jelek kurang memuaskan, Sacco E Vanzetti bisa dikatakan sebagai sebuah inspirasi bagi generasi kita di masa sekarang, yakni keyakinan dan keteguhan hati untuk mempertahankan sesuatu yang kita yakini.  Sebuah kebenaran yang kita pegang, dan bukan karena dorongan/paksaan orang lain, kita tak bisa membohongi siapa diri kita sebenarnya, kita adalah kita, kita adalah kita sendiri, bukan kita yang lain, seberapapun mahalnya arti kebenaran itu, janganlah jual kebenaran itu dan terus pegang kebenaran itu.  Mungkin itulah pesan yang gw tangkep dari Sacco E Vanzetti, dua orang yang meninggal dan dihukum di kursi listrik demi ideologi mereka, mereka yang mati karena apa yang mereka percayai, menyedihkan sekali kalau melihat bahwa kenyataanya kita hidup di dunia yang dikuasai oleh kepercayaan dan paksaan, bukan dunia yang berjalan dengan kedamaian dan asas kemanusiaan.  Lewat Sacco E Vanzetti, kita melihat, bahwa sebenarnya, kita hidup di sebuah dunia, sebuah dunia tanpa kemanusiaan, dunia tanpa manusia.






2 comments:

  1. Replies
    1. Materinya bagus banget, iringan musiknya bagus banget, sayang penyampainnya jelek, padahal itu di reviewnya gw dah muji2 ini film, cukup pesan moralnya aja yang jadi poin plus, penyampainnya hancur ala kadarnya

      Delete