Wednesday, March 30, 2016

Batman v Superman: Dawn of Justice (2016) Review


Setelah lelah dua tahun lebih menunggu (mungkin kalian yang ngikutin blog ini juga lelah nunggu ampe mau setahun nih blog kaga di apdet2), akhirnya Batman v Superman nongol di bioskop. Jika Man of Steel (saya pernah menulis review-nya di sini bersama sepupu saya yang sudah pensiun sebagai kritikus film dan sepertinya sudah jadi filmaker lahir batin di Bandung) berhasil membuat saya tercengang tiga tahun yang lalu, Batman v Superman memberikan perasaan yang serupa dengan level yang sedikit berbeda. Kalau mau diibaratkan, Man of Steel membuat saya terkejut seperti ketika saya dapat kabar kalau saya lulus UN dengan nilai pas-pasan, sementara Batman v Superman membuat saya terkejut seperti perasaan tekejutnya seorang bapak2 PNS gaji-7,5-termasuk-tunjangan yang mendapat hadiah sebuah motor Harley Davidson dari MLM. "Lho, kok bisa ya saya dapat motor Harley? Padahal kan cuma MLM?", ucap bapak2 PNS gaji-7,5-termasuk-tunjangan itu bisa dikatakan mirip seperti apa yang saya ucapkan ketika film ini menyentuh credit title, "Loh, kok bisa ya saya menyukai Batman v Superman? Padahal kan dibenci banyak kritikus?". Ya, di awal tulisan ini saya menegaskan kalau saya sangat menyukai BvS, dan saya sempat berpikir kalau film ini (mungkin) mengungguli Batman versi Nolan malah, untung setelah saya berpikir secara rasional di Indomaret Kelapa Gading, saya diberi pencerahan bahwa Nolan itu memang (mungkin) tidak tertandingi. Berikut adalah alasan kenapa saya benar-benar menikmati BvS.


1. Dunia yang Snyder hadirkan lebih ke arah comic-reality. Bagi saya, ini adalah keputusan yang tepat. Di trilogi Batman sebelumnya, Nolan sudah membuat Gotham beserta kejadian-kejadian di kota itu terasa sangat mendekati-kenyataan, maka Snyder membuat Gotham dan Metropolis beserta kejadian di dalamnya lebih ke arah yekaliadakejadiankayakgitudikehidupannyata agar memberi nuansa berbeda dan fresh. Lewat visual yang begitu bombastis penuh ledakan di mana-mana, Snyder seakan2 membuat statement kalau sudah saatnya bagi para penonton untuk move on dari TDK trilogy dan pelan2 berkenalan dengan Justice League Extended Universe.

2. Gelap, depressing, dan SAD. Poin plus bagi DC yang sejak dari Man of Steel kemarin sudah mulai menunjukan gejala-gejala film superhero minim humor tapi cerita gelap-tragis okepunya. Jika banyak kritikus mengkritik BvS karena terlalu suram, pertanyaan yang ingin saya tanyakan adalah: kenapa film superhero tidak boleh terlalu suram dan harus diselingi dengan jokes-jokes yang menyenangkan? Apakah film superhero yang sepenuhnya gelap adalah suatu hal yang buruk? Keputusan Snyder untuk sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi penontonnya untuk keluar dari gelapnya cerita BvS bisa saya anggap sebagai sebuah kelebihan ketimbang kekurangan. 

Sedikit intermezzo




Sayang aku masih kecil
Tapi kejantananmu
Membuat diriku
Ingin cepat dewasa.

Aku ingin giat belajar
Nanti setelah aku...
Lulus sekolah...

Kuingin jadi
Batman...
Batman...
Batman...
Batman...
Batman...

THE FUCKING BATMAN

3. Yep, BEN AFFLECK TOTALLY NAILED IT. I love Nolan's TDK, Christian Bale mantep banget jadi Bruce Wayne/Batman, tapi imo Ben Affleck lebih mantep aktingnya dibandingin Bale. Gila, itu sadness dan despair-nya si Bruce Wayne terasa sekali sepanjang film, kayak ga ada happy2nya tuh manusia. Tuh anak yang nyanyi lagu di atas mungkin bakal pengen giat belajar then lulus sekolah then jadi Batman KALAU dia nonton Batman versi Joel Schumacher, tapi kalau dia nonton BvS, buset deh amit2 kalau dia beneran pengen jadi Batman. Bayangin Bruce Wayne 20 tahun fighting crime terus partner mati sebiji terus pelan2 dia kehilangan faith in humanity-nya dan jadi Batman yang kelam kayak sekarang, yang almost ga punya moral code killing kek dulu, manusawi banget sih imo. Sorot mata Ben Affleck pas dia ngomong ke Alfred kalau Superman adalah ancaman adalah sebuah kemantaban.

4. Fight scene menjelang klimaks, tidak perlu dibahas ya, silahkan ditonton sendiri.

5. Setiap adegan yang diiringi dengan musik ini adalah sebuah kemantaban (2):



6. Kemunculan cameo-cameo asik yang akan menjadi kunci menuju Justice League. Nikmat Tuhan Pop Culture mana yang bisa kamu dustakan? (dan saya belum ngomongin adegan ngimpinya).

7. Gal Gadot as Wonder Woman! Walaupun screen time blio tidak sampai 20 menit, namun blio sejatinya adalah scene-stealer sejati.

Saya percaya subjektivitas dan saya sangat mengimani "beauty is in the eye of the beholder.", hanya saja jika anda lebih memilih yang kiri ketimbang yang kanan, entahlah.

Permasalahan saya terhadap BvS adalah: Film ini terlalu segmented. Ketika Nolan bisa menyenangkan hampir semua critics maupun pembaca komik dengan mengobrak-abrik source material aslinya, Snyder lebih ke arah menjadi comic-purist yang condong menyenangkan para pembaca komik setia DC dan membuat mereka yang tidak membaca komik menganggap beberapa adegan yang seharusnya tidak ada adalah plothole. Saya menikmati BvS MUNGKIN karena saya tahu sedikit tentang universe DC (sedikit loh ya, komik DC yang saya baca hanya Batman The New 52 dan Killing Joke, TDKReturns sama Year One nonton versi animasinya), tapi bagi mereka yang tidak tahu siapa itu Dick Grayson/Jason Todd, atau bahkan bagi mereka yang tidak mengetahui origin Batman sebelumnya itu kayak gimana, atau yang lebih parah, belum nonton Man of Steel, mungkin akan menganggap BvS sebagai sesuatu yang incoherent, ceritanya terlalu maksa, terlalu comic-purist, terlalu kelam, penuh plot hole without logic, banyak bacot, durasi kelamaan, etc etc. But shit, I really enjoyed the hell of it even though majority thinks the otherwise.

Oh iya, ada info penting, Neil DeGrasse Tyson nongol di film ini. 9/10.



0 comments:

Post a Comment