Friday, April 17, 2015

Filosofi Kopi (2015) Review


Kopi. Satu kata yang tentu sangat akrab di telinga banyak orang, khususnya orang Indonesia yang memang suka banget ngopi. Mulai dari kalangan tua sampai muda, berstatus sosial apapun, mau yang ngopinya di warkop dan kopinya dituangin dikit-dikit ke piring kecil, sampai ngopi di coffee shop semacam Starbucks dan konco-konconya, atau bahkan sampai ke para siswa/mahasiswa yang malem-malem suka nyeduh kopi hitam untuk menemani di kala nyelesain tugas-tugas sekolah/kuliah, semua orang dibuat jatuh cinta oleh kopi. Termasuk gue pribadi. Everything that includes coffee in it always excites me

Segelintir di antaranya adalah ketika Dewi Lestari membuat kumpulan cerita pendek berjudul Filosofi Kopi di pertengahan tahun 2000-an, bahkan sampai salah satu cerita pendeknya diadopsi ke dalam bentuk film dengan judul buku yang sama, yaitu Filosofi Kopi. Sebagai orang yang ngaku suka kopi, akhirnya gue cepat-cepat pergi ke bioskop untuk nonton film ini setelah Ujian Nasional usai beberapa hari lalu.

Tuesday, April 7, 2015

Furious 7 (2015) Review


 Ibarat mobil, franchise Fast Furious ini kayaknya ga pernah keabisan bensin. Franchise yang awalnya bertemakan balapan liar lalu berubah haluan menjadi action-heist yang gila banget (bayangin aja 2 mobil nyeret brankas gede yang ngancurin banyak mobil polisi sama kota rio di fast five atau berhentiin pesawat gede pake mobil di landasan yang ga abis-abis di fast six). Dan sebelum film keenamnya keluar pun,

Monday, April 6, 2015

Free To Play (2014) Review





In august 2011 a tournament featuring the popular Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) game Dota 2 was held in Cologne, Germany. It offered the largest prize pool to date - attracting professional E-Sports players from around the world. This is The International Dota 2 Championships.

Ini adalah sebuah film yang didedikasikan untuk seluruh gamer di penjuru dunia. Sebuah film tentang perjuangan betapa rumitnya kehidupan seorang gamer pro. Kita dapat menyaksikan bagaimana persaingan dan kerja keras para gamer pro lewat sudut pandang dari Clinton "FEAR" Loomis kapten dari Evil Geniuses (waktu itu dia masih menjabat kapten di tim Online Kingdom) asal Amerika Serikat, Benedict "HYHY" Lim kapten dari tim Scythe asal Singapura, dan Danil "DENDI" Ishutin dari tim Natus Vincere asal Ukraina.

Because Dota is more than just a game. It's an institution.

Friday, March 20, 2015

Cinderella (2015) Review


Di suatu siang di kantin Institut Kegilaan Jakarta, Tarnoto Sumantini (18), seorang mahasiswa FFTV merangkap penulis resensi film di blog Kritikus Film Beneran sedang menikmati makan siang sederhananya. Sepupunya, Jonjot Malang (20), mahasiwa jurusan hukum di Universitas Maksud Bersama datang menemuinya untuk mengcopy beberapa film senirumah. Dialog mereka kira2 begini:

Saturday, February 28, 2015

Kapan Kawin? (2015) Review


Well, bisa dibilang, pertanyaan “kapan kawin?” itu adalah salah satu pertanyaan basa-basi yang paling nyebelin, bikin eneg plus memuakkan bagi sebagian orang yang umurnya udah masuk rata-rata usia yang matang untuk menikah dan emang kebetulan belum punya pasangan. Apalagi hal itu biasanya selalu dilontarkan kalangan keluarga macem para om dan tante dengan tingkat rumpi yang lumayan nggilani. Namun gimana kalo misalnya yang cerewet dan berasa super ribet itu orang tua sendiri? Hal inilah yang jadi tema cerita dari film Kapan Kawin? ini.

Wednesday, January 28, 2015

Festen (1998) Review


Di era sekarang, sangat sulit untuk membedakan film yang direkam dengan teknologi digital dan yang direkam dengan teknologi analog, mengingat hampir seluruh bioskop di seluruh dunia sudah mengganti jenis proyektor mereka dengan DCP (Bahasa anak SMA-nya, infocus buat bioskop). Kalau dulu dengan mudah kita bisa melihat gores demi gores dan grain yang bertebaran di sana-sini, sekarang lewat maraknya teknologi digital, film yang direkam dengan rol film pun di konversi menjadi data digital, membuat kecacatan indah penuh kenangan di layar raksasa itu hilang ditelan badak. Membedakan hasil rekaman analog dengan digital di bioskop yang menggunakan DCP itu rasanya seperti melihat gambar di bawah ini:

Tuesday, January 27, 2015

In the Realm of the Senses (1976) Review


Saya suka bokep, tapi masih suka merasa 'yuh yih yuh' kalau ada feature film yang menghadirkan adegan seks yang tidak  di simulasi. Saat masih berumur 15 tahun, saya mencoba-coba memutar In the Realm of the Senses. Baru beberapa menit, filmnya langsung saya matikan. Bukan karena filmnya terlalu sakit, tapi saya masih merasa belum cukup umur (padahal bokep jalan terus est. 2007) untuk menonton film yang dipenuhi dengan desahan-desahan beneran masuk seperti itu. Saya pun berjanji pada diri sendiri, kalau film itu mesti ditonton begitu umur saya menyentuh 18 tahun. 3 tahun kemudian, saya kira saya akan tahan menonton In the realm of the senses, eh ternyata sama saja, perasaan 'yuh yih yuh' tetap dapat dirasakan pada saat adegan kulum-kulum berlangsung. Nonton bokep 3 kali seminggu itu hukumnya Fardu Ain bagi saya, lah kok nonton In the Realm of the Senses tidak kuat ya? Hidup memang penuh kontradiksi.