Wednesday, January 28, 2015

Festen (1998) Review


Di era sekarang, sangat sulit untuk membedakan film yang direkam dengan teknologi digital dan yang direkam dengan teknologi analog, mengingat hampir seluruh bioskop di seluruh dunia sudah mengganti jenis proyektor mereka dengan DCP (Bahasa anak SMA-nya, infocus buat bioskop). Kalau dulu dengan mudah kita bisa melihat gores demi gores dan grain yang bertebaran di sana-sini, sekarang lewat maraknya teknologi digital, film yang direkam dengan rol film pun di konversi menjadi data digital, membuat kecacatan indah penuh kenangan di layar raksasa itu hilang ditelan badak. Membedakan hasil rekaman analog dengan digital di bioskop yang menggunakan DCP itu rasanya seperti melihat gambar di bawah ini:

Tuesday, January 27, 2015

In the Realm of the Senses (1976) Review


Saya suka bokep, tapi masih suka merasa 'yuh yih yuh' kalau ada feature film yang menghadirkan adegan seks yang tidak  di simulasi. Saat masih berumur 15 tahun, saya mencoba-coba memutar In the Realm of the Senses. Baru beberapa menit, filmnya langsung saya matikan. Bukan karena filmnya terlalu sakit, tapi saya masih merasa belum cukup umur (padahal bokep jalan terus est. 2007) untuk menonton film yang dipenuhi dengan desahan-desahan beneran masuk seperti itu. Saya pun berjanji pada diri sendiri, kalau film itu mesti ditonton begitu umur saya menyentuh 18 tahun. 3 tahun kemudian, saya kira saya akan tahan menonton In the realm of the senses, eh ternyata sama saja, perasaan 'yuh yih yuh' tetap dapat dirasakan pada saat adegan kulum-kulum berlangsung. Nonton bokep 3 kali seminggu itu hukumnya Fardu Ain bagi saya, lah kok nonton In the Realm of the Senses tidak kuat ya? Hidup memang penuh kontradiksi.

Wednesday, December 10, 2014

Exodus: Gods And Kings (2014) Review


    Bukan, ini bukan film tentang kelab malam yang ada di Jakarta itu. Ini tentang seseorang (dan gua berani bilang) yang pasti semua orang tau namanya: Musa. Disutradarai oleh sutradara Gladiator dan Kingdom Of Heaven, Ridley Scott (yang sedang mencoba bangkit setelah 3 film terakhirnya mengecewakan) yang akan menghadirkan kita biopic dari nabi yang paling terkenal ini. Dan apakah film ini berhasil menceritakan kembali kisah epik sang nabi pembelah laut? mari kita cek.

Tuesday, November 11, 2014

The Look of Silence (2014) Review



Bila The Act of Killing (Jagal) bercerita tentang upaya pembenaran diri sendiri demi kebenaran semu, maka The Look of Silence (Yang setelah ini akan saya sebut dengan "Senyap") bercerita tentang usaha rekonsiliasi demi berdamai dengan masa lalu. Tidak tepat jika menyebut Senyap adalah sekuel langsung Jagal, karena menurut hemat saya, sebutan antonim ketimbang sekuel adalah julukan yang lebih tepat untuk Senyap, Kenapa? Karena Jagal berbicara dengan nada bangga yang didasari oleh kekejian masa lampau, sementara Senyap berbicara dengan nada lirih, yang dibangun oleh rasa duka dan kepahitan selama bertahun-tahun.

Monday, November 10, 2014

Friday, October 31, 2014

John Wick (2014) Review


Film action Hollywood akhir2 ini entah kenapa menjadi membosankan dan bikin gw miris ngeliatnya. Nengok2 ke belakang, kita bisa melihat Taken, Jack Ryan, dan film2 action Hollywood lainnya tampil begitu sopan dan ga ada taringnya. Maret kemarin, Lewat The Raid 2: Berandal yang tampil dengan begitu brutal dan menawan, Gareth Evans, beserta kru2 filmnya seolah2 mengatakan:

"FUCK YOU HOLLYWOOD, OGUT BISA BIKIN PILEM EKSYEN EPIK DENGAN BUDGET 50 M DOANG, YU ORANG HOLLYWOOD BISA BIKIN APE DENGAN DUIT SEGITU? PILEM PENDEK?". 

Dengan budget 50 M, mereka bisa bikin orang2 Hollywood menangis dan bikin audiens Internasional tercengang karena Evans bisa bikin sebuah dunia heightened reality yang sukar dipercaya but believable, plus, karakter2 ajaib yang saling tukar nyawa di dalamnya, dengan budget 'seadanya'. Buat yang ngerasa budget 50 M itu mahal, mahal ya kalau untuk ukuran pilem Indo. Buat Hollywood, 50 M mah seiprit, Taken 2 aja yang sebegitu doang abis 450 M, 9 x lipat dari budget The Raid 2, nah lo. But ripiu ini ga bakal ngebahas budget The Raid 2, ato Jack Ryan tai kemaren, but ripiu ini akan ngebahas John Wick, sebuah film yang menandai bangkitnya film action Hollywood yang brutal, epic, dan bikin gw terkesima.

Saturday, October 25, 2014

Pengabdi Setan (1980) Review


“SYETDAAAAAH AH barusan gue nonton film kea begini amat sih ya Allah
 *langsung komat-kamit baca istighfar*.”

Begitulah reaksi gue ketika lagi nonton film Pengabdi Setan untuk pertama kalinya. Buat orang-orang yang besar di era 80-an, rata-rata mungkin udah pada tau film bergenre horor ini. Nah bagi yang belum mafhum, film Pengabdi Setan arahan sutradara Sisworo Gautama Putra yang dirilis tahun 1980 ini, duduk setara dengan film-film Indonesia lain dengan cita rasa cult seperti Sundel Bolong nya Sisworo juga, Lady Terminator dan Leak nya Tjut Djalil, dan Perawan di Sarang Sindikat nya Ackyl Anwari. Karena menyandang predikat film cult dan bisa dibilang udah go international pada masanya, film ini banyak diincar oleh kolektor film dari dalam maupun luar negeri. Gue pribadi pun sebenernya udah kepengen nonton film ini dari tahun lalu, sampai akhirnya mz Joko Anwar di Twitternya bilang kalo film ini adalah film horor Indonesia favoritnya. Akhirnya gue pun jadi menyegerakan diri untuk nonton film ini, saking penasarannya.