Saturday, April 2, 2016

Di Balik Kelambu (1983) Review



Film ini dibuka dengan adegan yang memperlihatkan aktivitas suami-istri Hasan (Slamet Rahardjo) dan Nurlela (Christine Hakim) di pagi hari. Hasan bersiap-siap untuk bekerja, sementara Nurlela mengurus anak-anak mereka. Apa yang membuat aktivitas Hasan dan Nurlela beserta anak-anaknya menarik untuk disimak adalah karena mereka masih tinggal bersama keluarga Nurlela. Tekanan dari ayah Nurlela yang mengharapkan sosok menantu ideal dari Hasan beserta campur tangan keluarga Nurlela terhadap bagaimana cara Nurlela mengurus anak membuat kedua pasangan ini tertekan setiap hari. Ketika film menampilkan adegan Hasan yang mengundurkan diri dari pekerjaannya dan menjadi supir taksi, dari sini cerita di film ini mulai bertambah rumit.

Wednesday, March 30, 2016

Batman v Superman: Dawn of Justice (2016) Review


Setelah lelah dua tahun lebih menunggu (mungkin kalian yang ngikutin blog ini juga lelah nunggu ampe mau setahun nih blog kaga di apdet2), akhirnya Batman v Superman nongol di bioskop. Jika Man of Steel (saya pernah menulis review-nya di sini bersama sepupu saya yang sudah pensiun sebagai kritikus film dan sepertinya sudah jadi filmaker lahir batin di Bandung) berhasil membuat saya tercengang tiga tahun yang lalu, Batman v Superman memberikan perasaan yang serupa dengan level yang sedikit berbeda. Kalau mau diibaratkan, Man of Steel membuat saya terkejut seperti ketika saya dapat kabar kalau saya lulus UN dengan nilai pas-pasan, sementara Batman v Superman membuat saya terkejut seperti perasaan tekejutnya seorang bapak2 PNS gaji-7,5-termasuk-tunjangan yang mendapat hadiah sebuah motor Harley Davidson dari MLM. "Lho, kok bisa ya saya dapat motor Harley? Padahal kan cuma MLM?", ucap bapak2 PNS gaji-7,5-termasuk-tunjangan itu bisa dikatakan mirip seperti apa yang saya ucapkan ketika film ini menyentuh credit title, "Loh, kok bisa ya saya menyukai Batman v Superman? Padahal kan dibenci banyak kritikus?". Ya, di awal tulisan ini saya menegaskan kalau saya sangat menyukai BvS, dan saya sempat berpikir kalau film ini (mungkin) mengungguli Batman versi Nolan malah, untung setelah saya berpikir secara rasional di Indomaret Kelapa Gading, saya diberi pencerahan bahwa Nolan itu memang (mungkin) tidak tertandingi. Berikut adalah alasan kenapa saya benar-benar menikmati BvS.

Thursday, May 21, 2015

Benny's Video (1992) Review


Saya memiliki teman bernama kak Benny. Kak Benny berasal dari Medan dan merantau ke Banjarbaru karena ingin kuliah di tempat terpencil. Dalam tulisan ini saya akan bercerita sedikit tentang kak Benny.

Tuesday, April 28, 2015

Melancholy is a Movement (2014) Review


"FILM GAJE FILM GAJE FILM GAJE!!!!!!" Teriak seorang perempuan yang walked out bersama teman-temannya dari pemutaran Melancholy is a Movement. Perempuan itu tidak sepenuhnya salah karena memang benar, Melancholy is a Movement mungkin adalah film yang tidak jelas bagi sebagian orang. Walaupun film ini sekilas terlihat seperti film yang termasuk golongan style over substance, tapi perasaan yang saya rasakan saat menonton film terasa familiar karena apa yang hendak disampaikan oleh Richard Oh sangatlah sederhana: ini kisah tentang filmmaker yang berusaha untuk bertahan hidup.

Friday, April 17, 2015

Filosofi Kopi (2015) Review


Kopi. Satu kata yang tentu sangat akrab di telinga banyak orang, khususnya orang Indonesia yang memang suka banget ngopi. Mulai dari kalangan tua sampai muda, berstatus sosial apapun, mau yang ngopinya di warkop dan kopinya dituangin dikit-dikit ke piring kecil, sampai ngopi di coffee shop semacam Starbucks dan konco-konconya, atau bahkan sampai ke para siswa/mahasiswa yang malem-malem suka nyeduh kopi hitam untuk menemani di kala nyelesain tugas-tugas sekolah/kuliah, semua orang dibuat jatuh cinta oleh kopi. Termasuk gue pribadi. Everything that includes coffee in it always excites me

Segelintir di antaranya adalah ketika Dewi Lestari membuat kumpulan cerita pendek berjudul Filosofi Kopi di pertengahan tahun 2000-an, bahkan sampai salah satu cerita pendeknya diadopsi ke dalam bentuk film dengan judul buku yang sama, yaitu Filosofi Kopi. Sebagai orang yang ngaku suka kopi, akhirnya gue cepat-cepat pergi ke bioskop untuk nonton film ini setelah Ujian Nasional usai beberapa hari lalu.

Tuesday, April 7, 2015

Furious 7 (2015) Review


 Ibarat mobil, franchise Fast Furious ini kayaknya ga pernah keabisan bensin. Franchise yang awalnya bertemakan balapan liar lalu berubah haluan menjadi action-heist yang gila banget (bayangin aja 2 mobil nyeret brankas gede yang ngancurin banyak mobil polisi sama kota rio di fast five atau berhentiin pesawat gede pake mobil di landasan yang ga abis-abis di fast six). Dan sebelum film keenamnya keluar pun,

Monday, April 6, 2015

Free To Play (2014) Review





In august 2011 a tournament featuring the popular Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) game Dota 2 was held in Cologne, Germany. It offered the largest prize pool to date - attracting professional E-Sports players from around the world. This is The International Dota 2 Championships.

Ini adalah sebuah film yang didedikasikan untuk seluruh gamer di penjuru dunia. Sebuah film tentang perjuangan betapa rumitnya kehidupan seorang gamer pro. Kita dapat menyaksikan bagaimana persaingan dan kerja keras para gamer pro lewat sudut pandang dari Clinton "FEAR" Loomis kapten dari Evil Geniuses (waktu itu dia masih menjabat kapten di tim Online Kingdom) asal Amerika Serikat, Benedict "HYHY" Lim kapten dari tim Scythe asal Singapura, dan Danil "DENDI" Ishutin dari tim Natus Vincere asal Ukraina.

Because Dota is more than just a game. It's an institution.