Friday, March 20, 2015

Cinderella (2015) Review


Di suatu siang di kantin Institut Kegilaan Jakarta, Tarnoto Sumantini (18), seorang mahasiswa FFTV merangkap penulis resensi film di blog Kritikus Film Beneran sedang menikmati makan siang sederhananya. Sepupunya, Jonjot Malang (20), mahasiwa jurusan hukum di Universitas Maksud Bersama datang menemuinya untuk mengcopy beberapa film senirumah. Dialog mereka kira2 begini:

Saturday, February 28, 2015

Kapan Kawin? (2015) Review


Well, bisa dibilang, pertanyaan “kapan kawin?” itu adalah salah satu pertanyaan basa-basi yang paling nyebelin, bikin eneg plus memuakkan bagi sebagian orang yang umurnya udah masuk rata-rata usia yang matang untuk menikah dan emang kebetulan belum punya pasangan. Apalagi hal itu biasanya selalu dilontarkan kalangan keluarga macem para om dan tante dengan tingkat rumpi yang lumayan nggilani. Namun gimana kalo misalnya yang cerewet dan berasa super ribet itu orang tua sendiri? Hal inilah yang jadi tema cerita dari film Kapan Kawin? ini.

Wednesday, January 28, 2015

Festen (1998) Review


Di era sekarang, sangat sulit untuk membedakan film yang direkam dengan teknologi digital dan yang direkam dengan teknologi analog, mengingat hampir seluruh bioskop di seluruh dunia sudah mengganti jenis proyektor mereka dengan DCP (Bahasa anak SMA-nya, infocus buat bioskop). Kalau dulu dengan mudah kita bisa melihat gores demi gores dan grain yang bertebaran di sana-sini, sekarang lewat maraknya teknologi digital, film yang direkam dengan rol film pun di konversi menjadi data digital, membuat kecacatan indah penuh kenangan di layar raksasa itu hilang ditelan badak. Membedakan hasil rekaman analog dengan digital di bioskop yang menggunakan DCP itu rasanya seperti melihat gambar di bawah ini:

Tuesday, January 27, 2015

In the Realm of the Senses (1976) Review


Saya suka bokep, tapi masih suka merasa 'yuh yih yuh' kalau ada feature film yang menghadirkan adegan seks yang tidak  di simulasi. Saat masih berumur 15 tahun, saya mencoba-coba memutar In the Realm of the Senses. Baru beberapa menit, filmnya langsung saya matikan. Bukan karena filmnya terlalu sakit, tapi saya masih merasa belum cukup umur (padahal bokep jalan terus est. 2007) untuk menonton film yang dipenuhi dengan desahan-desahan beneran masuk seperti itu. Saya pun berjanji pada diri sendiri, kalau film itu mesti ditonton begitu umur saya menyentuh 18 tahun. 3 tahun kemudian, saya kira saya akan tahan menonton In the realm of the senses, eh ternyata sama saja, perasaan 'yuh yih yuh' tetap dapat dirasakan pada saat adegan kulum-kulum berlangsung. Nonton bokep 3 kali seminggu itu hukumnya Fardu Ain bagi saya, lah kok nonton In the Realm of the Senses tidak kuat ya? Hidup memang penuh kontradiksi.

Wednesday, December 10, 2014

Exodus: Gods And Kings (2014) Review


    Bukan, ini bukan film tentang kelab malam yang ada di Jakarta itu. Ini tentang seseorang (dan gua berani bilang) yang pasti semua orang tau namanya: Musa. Disutradarai oleh sutradara Gladiator dan Kingdom Of Heaven, Ridley Scott (yang sedang mencoba bangkit setelah 3 film terakhirnya mengecewakan) yang akan menghadirkan kita biopic dari nabi yang paling terkenal ini. Dan apakah film ini berhasil menceritakan kembali kisah epik sang nabi pembelah laut? mari kita cek.

Tuesday, November 11, 2014

The Look of Silence (2014) Review



Bila The Act of Killing (Jagal) bercerita tentang upaya pembenaran diri sendiri demi kebenaran semu, maka The Look of Silence (Yang setelah ini akan saya sebut dengan "Senyap") bercerita tentang usaha rekonsiliasi demi berdamai dengan masa lalu. Tidak tepat jika menyebut Senyap adalah sekuel langsung Jagal, karena menurut hemat saya, sebutan antonim ketimbang sekuel adalah julukan yang lebih tepat untuk Senyap, Kenapa? Karena Jagal berbicara dengan nada bangga yang didasari oleh kekejian masa lampau, sementara Senyap berbicara dengan nada lirih, yang dibangun oleh rasa duka dan kepahitan selama bertahun-tahun.

Monday, November 10, 2014