Friday, November 15, 2013

Taman Lawang (2013) Review.


Di suatu restoran ternama di Jakarta, Ongal Syahputri sedang berbicara bersama seorang sutradara film bernama Andi Alay. dialog mereka kira2 begini:

"Ga nyangka aku Ndi, film yang kita bikin kemarin ternyata laku keras, gila lo, sampe tembus 100 ribu penonton."
"hahahaha yes, itu semua berkat kerja keras kamu baby, ngepromosiin film ini di berbagai macam media, bahkan admin blog Kritikus Film Beneran yang namanya Tarnoto Sumantini sampe rela nonton film kita, padahal dia biasanya pemilih banget lo kalau mau nonton film Indonesia, apalagi genrenya horor."
"aaaaaah kamu bisa aja deh Ndi"
Andi menjilat pipi Ongal, Ongal pun tersenyum lanji dan tidak peduli dengan orang-orang sekitar mereka.


"aaaah, jilatanmu enak banget Ndi, aku rela ko ga dibayar kalau main di film kamu, asal kamu bisa ngejilat kayak gitu."
"ohhh Ongal,  kamu akan dapat jilatan yang jauh lebih enak dari ini, asalkan kamu ngepromote film ini dengan lebih heboh lagi di tv."
"Okay hunny bunny, aku akan ngepromoooote film ini segembor-gembornya, supaya aku bisa dapat lebih banyak jilatan maut kamu ituu"

Andi Alay pun menjilati pipi Ongal lagi, Ongal pun mulai mendesah dan badannya bergetar, seantero pengunjung restoran mulai memperhatikan tingkah laku mereka, para pelayan pun mulai takut citra image restoran mereka akan berubah menjadi restoran perzinahan.
"Duuuh, enak banget Ndi"
"slep slep slep" *sambil jilat2*
"Tapi kok di twitter ada aja ya penggemar film yang menghujat film kita"
Andi pun berhenti menjilati pipi Ongal dan moodnya langsung rusak seketika
"Kenapa kamu stop Ndi?" Ucap Ongal
"Perkataan kamu itu bikin aku kesal tau ga?
"Kenapa?"
"Karena tweet-tweet sampah mereka itu udah membuat aku terlihat seperti penipu tahu"
"Maafin aku ya Ndi, tapi untuk ukuran film dengan budget yang ga sampai 10 ribu rupiah, film kita ini masuk dalam taraf acceptable kok..."

Andi mulai menangis tersedu-sedu, Ongal pun merangkul badan Andi dan mencoba menenangkannya.
"Ngal, aku sedih tau ga, Taman Lawan itu aku bikin dengan effort yang luar biasa, sotengnya pun lama banget, 3 hari aja, aku cape banget tau ga bikin Taman Lawang, tapi mereka menghina-hina kerja keras aku..."
"Yang sabar ya Ndi...."
Ongal merangkul badan Andi yang lemah dan tak berdaya, sambil menepuk-nepuk pantat Andi.
"Naskahnya pun aku bikin secara hati-hati dan penuh perhitungan, tapi aku selalu ingat perkataan Akira Kurosawa, cara untuk membuat naskah yang baik itu setidaknya ditemani minimal 3 orang, agar naskahnya menjadi luwes dan punya perspektif yang berbeda-beda, makanya aku ngajak 3 orang siswa kelas 3 SD Negeri Siluman 2 untuk ngebantu aku nulis naskah Taman Lawang, tapi kenapa? kenapa si Tarnoto bilang kalau naskahnya itu kayak tahi ayam yang ditempelin di atas kertas terus dijadiin film, kenapa Kritikus Film Beneran menghina film aku seperti itu, KENAPA?!!!"
"Yang sabar Ndi.."
Ongal pun mencoba menjilat pipi Andi, sayang jilatannya tak enak, Andi pun langsung menabok pipi Ongal, Ongal kesakitan.
"Si Tarnoto itu, bajingan sekali anaknya, padahal umurnya belum sampai 17 tahun, tapi sudah berani bilang kalau melihat tahi yang di flush di lubang WC itu 1000 kali lebih baik daripada menonton Taman Lawang, siapa sih yang ga sakit hatinya kalau filmnya dibilang lebih jelek daripada tahi yang berputar.."
"Ah, masa dia bilang gitu?"
"Coba aja buka kritikusfilmbeneran.blogspot.com, terus baca reviewnya dia, kemarin aku udah mau makan duren sambil minum sprite karena reviewnya itu bener2 menyiksa batin aku."
Ongal pun membuka hanphone cinanya, dan mulai membaca review Kritikus Film Beneran.

KRITIKUS FILM BENERAN: TAMAN LAWANG (2013) REVIEW.

Gw bingung mau mulai review film ini dari mana, karena menurut gw Taman Lawang ini filmnya ga bisa di review, why? karena kejelekan dan kebodohannya bikin gw mual2 mau muntah, disuruh nonton aja gw mau muntah, apalagi disuruh review, bisa2 gw kena muntaber, hiii.

Dari segi cerita, jujur aja, gw ngerasa kalau yang bikin script film Taman Lawang bukan manusia, tapi ayam, karena dialog2nya itu bener2 sampah dan lebih hancur daripada kata klise, bayangin seandainya ayam berak di atas kertas, terus kertasnya dijadiin naskah film, dan naskahnya pun terealisasikan menjadi film, gimana ga tahi itu film, sumbernya aja dari tahi.

Sehancur-hancur dan sejelek-jeleknya Pulau Hantu, Bangkit Dari Lumpur, Maling Kuburan, Malam Jumat Kliwon, Nenek Gayung, dan produk2 lainnya dari Nayato dan Dheeraj, setidaknya mereka masih memiliki beberapa poin yang menghibur, film jelek tapi menghibur itu masih bisa dinikmati, lah Taman Lawang? Gw merasa digit I.Q gw mulai berkurang pada saat menonton Taman Lawang, yang dari awalnya 3 digit, pas nyampe akhir film berubah jadi 1 digit, why? ini dikarenakan dialog dan logic yang ga bisa tolerir lagi kebodohannya. Gw akuin, paruh awal 20 menit pertama film ini lucu, tapi setelahnya? luar biasa hancur, Alay mencoba untuk menjadikan Taman Lawang seperti From Dusk Till Dawn, tapi sayang, kalo From Dusk Till Dawn itu makin lama jatuhnya makin keren, Taman Lawang ini makin lama jatuhnya makin hancur, bukannya gw menikmati, yang ada gw malah tersiksa habis-habisan kayak Alex DeLarge yang ikut Ludovico Technique, harusnya pihak studio 22 menyiapkan kantung muntah saat penayangan Taman Lawang, karena banyak penonton yang muntah berjemaah di bioskop.

Pepatah mengatakan: "A masturbation a day keeps the doctor away.", lha. kok cuman sekali? kenapa ga sepuluh kali aja sehari? jawabannya sudah jelas, karena apapun yang berlebihan, pastilah buruk. Taman Lawang adalah salah satu contoh gimana sebuah film bisa GAGAL karena kebanyakan makai faktor Jump Scare (ga tau Jump Scare? cari di booble sono) Jump Scare is good, as long makainya itu bener dan ga berlebihan (eg. The Exorcist, Insidious, The Evil Dead, Pocong 2), tapi Taman Lawang  trying too hard buat ngagetin penontonnya, yang awal2nya agak ngagetin akhirnya berubah jadi film tebak2 lokasi hantu yang predictable, penonton yang semula dikagetin melulu akhirnya malah berlomba-lomba nyari penampakan hantunya di mana. Sudah gagal nakut2in, diketawain pula sama penontonnya, kasian.

Sumpah teman2, melihat tahi yang berputar karena di flush di lubang wc saja jauh lebih enjoyable dan 1000 kali lebih baik daripada menonton Taman Lawang di bioskop, why? karena Taman Lawang punya 1001 alasan untuk dinobatkan sebagai salah satu film paling buruk yang pernah ada in our existence. Terlepas dari semua keburukannya, setidaknya Taman Lawang berhasil memberikan pengalaman seamless realism yang luar biasa disturbing. Kalau Gravity kemarin berhasil membuat penonton merasa berada di luar angkasa, Taman Lawang SUKSES membuat penonton yang berada dalam studio, merasa berada di Taman Lawang beneran, ini membuat Taman Lawang pantas mendapatkan.......

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Ga kuat nerusin aku Ndi, aku ga berani ngeliat skornya....."ucap Ongal smebari menutup HP-nya
"Kayaknya KFB bener deh Ngal, kita harus bikin yang lebih bermutu setelah ini...."
"TAPI NDI, SELERA FILM MASYARAKAT INDONESIA INI KEBANYAKAN MASIH RENDAH NDI, KITA MANFAATKAN KEBODOHAN PENONTON INDONESIA SUPAYA FILM KITA BISA BALIK MODAL, BAHKAN UNTUNG. COBA BAYANGIN SEANDAINYA PENONTON KITA PINTAR SEMUA, MANA ADA YANG MAU NONTON FILM KAYAK TAMAN LAWANG? MAU GA MAU KITA HARUS BIKIN FILM DENGAN BUDGET GEDE, AKTOR/AKTRIS BERKUALITAS, DURASI SUTING YANG LAMA, SEMUANYA BIAYA NDI, BIAYA! FILM BAGUS PUN BELUM TENTU BALIK MODAL, COBA LIAT FILMNYA SI JOKO NAWAR, MODUS MAMALIA AJA KEMARIN CUMAN TEMBUS 150 RIBU PENONTON DOANG, GUE SEBAGAI PRODUSER FILM YANG PENTING CUAN NDI, QUALITY NO.2 LAH, YANG PENTING CUAN!"

Andi pun termenung dan akhirnya sadar, bahwa segila-gilanya dan sehebat-hebatnya kreatifitas dan idealisme seseorang, bila kreatifitas dan idealisme itu terkekang, dan di represi oleh selera pasar, kreatifitas dan idealisme itu pun pada akhirnya hanya akan menjadi seperti jeruk murni yang diperas habis-habisan hingga kehilangan bulir dan sarinya. Kering, dan tak bersisa.

15 comments:

  1. Interesting review!! Menghibur dan sukses bikin cengar cengir nggak jelas dengan sindirannya yang keren!! Good job #twothumbsup

    ReplyDelete
  2. Buset dah, gak nyangka lo nonton nih film, wkwk
    Ceritanya udah dapet duit jajan dari bokap nih? :p

    ReplyDelete
  3. hahahaha..lucu reviewnya..
    i like it..

    ReplyDelete
  4. reviewnya malah bikin gw pnasaran bang :D

    ReplyDelete
  5. Tulisan review yang keren gila! Di akhir ada kritikannya, semoga penonton Indonesia cepet sadar mana film yang bagus dan mana yang tidak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ampe bebusa mulut gw teriak2 kalo ni film jeleknya kebangetan, masih aja ada yang nonton sampe tembus 290 ribu penonton, ckckckck.

      Delete
    2. kan yang nonton dpt tiket gratis kaka... klo ga gtu mana bs tembus cii... hahahahaha

      Delete
  6. Penonton/Masyarakat indonesia emg masih goublok goublok,,saya liat dikolom komen aja masih banyak yg bunyi "ahhh lu bisanya nyela, kritik,,bisa ga buat karya seperti dia?" Manusia2 model bgtu sangat byk bermunculan menyebar sampah di kolom2 komen sprti youtube dll,,manusia yg tdk pernah berpijak dibumi,,yg tdk sadar punya hak perlindungan konsumen

    ReplyDelete
  7. makasih atas artikelnya... kunjung balik ya...gan

    ReplyDelete
  8. jangan hanya memberikan kritik yang negatif, bayangkan saja untuk membuat film yang berdurasi 80 - 120 menit butuh waktu kurang lebih 1 tahun, tunjukkan film buatan anda, biarkan orang mengkeritik, seharusnya seni dibalas dengan seni bukan dengan menjatuhkan film tersebut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anda pernah gak makan di restoran, anda merasa dan menilai makanannya tak enak, tak sesuai dengan selera anda, tapi bisa ga anda bikin makanan seperti itu? Bikin yang lebih enak dari itu? Saya berhak menilai film ini karena saya bayar tiket 40.000 buat nonton ini, dan filmnya TAK ENAK. Saya berhak memberikan penilaian negatif karena tak ada satupun suatu hal yang positif di film ini, saya bahkan ingin meminta uang saya kembali ke loket 21 karena saya baru saja mengalami pembodohan dan penurunan IQ selama 90 menit. Jadi kalau ada orang yang merasa seorang konsumen tak berhak untuk mengeluarkan pendapatnya terhadap sebuah karya seni, dan si konsumen malah disuruh bikin karya seni yang lebih baik, sorry to say, itu udah kolot dan sad banget pemikirannya.

      Delete
    2. lahhh baru gw ngomongin di atas,,dah muncul lagi aja neh,,,trus apakah semua pasukan nasi bungkus yg biasa demo sana sini (termasuk mungkin....) harus jadi pejabat dulu, baru bisa demoin pejabat???? lulusan mana seh lu,,kok byk bgt type2 kayak lo di coment youtube..kasihan gw !

      Delete