Sunday, October 13, 2013

13 Episode The Twilight Zone Season 1 (1959) Terbaik Versi Kritikus Film Gadungan.


"There is a fifth dimension beyond that which is known to man. It is a dimension as vast as space and as timeless as infinity. It is the middle ground between light and shadow, between science and superstition, and it lies between the pit of man's fears and the summit of his knowledge. This is the dimension of imagination. It is an area which we call, The Twilight Zone." - Rod Serling.

Setiap orang pasti punya tv series favortnya masing2, temen gw si Hanjoyo demen ama SUPERNATURAL, om gw demen ama ALIAS, bokap gw suka sama CSI, emak gw suka sama SERIES KOREA (ga gw beri judul, ini dikarenakan emak gw suka semua series korea, apapun judulnya, yang penting lucu), guru gw suka sama TUKANG BUBUR NAIK HAJI (ITU MAT SOLARNYA KEMANA?) temen gw yang setengah laki setengah cewe demen THE WALKING DEAD. Semua orang punya tv series favoritnya masing2, dan kalo lu nanya ke gw, apa tv series favorit gw, tanpa ragu2, gw pasti akan langsung jawab BREAKING BAD, why? it's perfect, 1 kata itu aja udah cukup untuk ngedescribe seluruh kegilaan yang ada di Breaking Bad. Tapi tapi tapi, post ini gak akan ngebahas BREAKING BAD, karena disini gw akan ngebahas salah satu tv series menyeramkan yang telah ada 5 dekade yang lalu, yep, it's THE TWILIGHT ZONE, berbeda dengan series lain yang kebanyakan ceritanya bersambung melulu, or series kayak THE X-FILES yang 1 episode 1 kasus (meskipun ada kontinuitas dan perkembangan cerita di tiap seasonnya), The Twilight Zone ini lebih kayak series anthology, tiap 1 episode, ceritanya beda2. Contoh gampangnya, di trans tv dulu rasanya ada series horor keren bernama HIDAYAH, nah, The Twilight Zone seperti Hidayah, cuma jauh lebih bagus daripada Hidayah. Walaupun ni series tayang dari taon jebot (1959-1964, gile, bokap gw aja belum lahir), but The Twilight Zone itu adalah karya klasik dan tetep bisa dinikmati anak2 jaman sekarang, gw aja tiap malem kerjaanya nonton ini melulu, makanya gw sekarang jarang banget ngereview film, ketagihan marathon Hidayah sih, eh, The Twilight Zone, huehehehe.

Kali ini gw mau curhat tentang 13 episode season 1 the twilight zone terkeren yang pernah gw tonton dari total 36 episode season 1-nya. Keunggulan The Twilight Zone ini terletak pada kejadian supranatural yang dialami oleh karakter utamanya, dan pesan moralnya yang kadang2 terlalu mindfuck. The Twilight Zone juga mengajarkan kita, bahwa sebenarnya, kita sendirilah yang menciptakan ketakutan itu sendiri, bukan karena faktor jump scare, atmosphere, ato penampakan, tapi semua itu balik ke kita sendiri, karena kita sendiri yang menciptakan ketakutan itu, ah, pusing gw ngejelasinnya, buat yang udah nonton pasti paham sendiri, langsung aja ya:

Sebelumnya, honorable mention untuk mereka yang nyaris memasuki top 13 ini:
- The Sixteen Millimeter Shrine. (Sunset Boulevard dimasukin elemen supranatural, beginilah hasilnya)
- Perhchance to Dream.
- Judgment Night. (Oh shit that sick twist!)
- I Shot An Arrow Into The Air (Tolol dan goblok, cuman twistnya itu bener2 gila)
- The Fever.
- The Last Flight.
- The Purple Testament.
- Elegy.
- Mirror Image.
- A World of Difference.
- Long Live Walter Jameson.
- Nightmare As A Child.
- Mr. Bevis
- The After Hours.


13. A World of His Own / Episode 36 / 1960


Episode terakhir season 1 The Twilight Zone ini menurut gw adalah episode The Twilight Zone yang paling kocak. Nyeritain tentang seorang istri yang melihat suaminya sedang berduaan dengan seorang wanita, dan pada saat sang Istri masuk ke dalam rumah (dengan mengetok2 pintu rumah agar sang suami kelabakan), wanita yang bersama suaminya tadi tiba2 menghilang. Marah karena mengira sang suami selingkuh, dan hendak pergi ke pengacara untuk minta cerai, sang suami pun berusaha menjelaskan, kalau wanita yang istrinya lihat lewat kaca jendela barusan adalah wanita hasil imajinasi sang suami sendiri, mengingat sang suami adalah seorang pembuat naskah drama, apakah sang suami benar-benar bisa menciptakan tokoh ke dunia nyata lewat imajinasinya sendiri? atau itu hanyalah tipu daya agar hubungannya dengan istrinya bisa terselamatkan? A World of His Own memiliki kadar kelucuan yang tinggi, tiap dialog serta akting yang dibawakan oleh Keenan Wynn dan Phyliss Kirk itu benar2 lucu tapi serius, ngakak gw ngeliatnya, dan ketika episode ini diakhiri dengan twistnya yang bener2 gak gw duga, Rod Serling, sang pembuat Twilight Zone melakukan tindakan 'Breaking the fourth wall' yang buat gw sendiri bener2 hillarious! Ngakak to the max!



12. A Nice Place To Visit / Episode 28 / 1960


Rocky Valentine baru saja ditembak mati oleh polisi, saat terbangun, Ia bertemu dengan Mr.Pip yang mengaku bahwa Ia telah mengenal Rocky Valentine sejak lama. Mr.Pip kemudian memberitahu Rocky, bahwa Rocky bisa meminta apapun yang Rocky inginkan. Rocky Valentine, yang telah melakukan banyak dosa selama hidupnya pun dihadiahi rumah mewah, kekayaan, wanita, mobil, kehormatan, dan semuanya oleh Mr.Pip, pertanyaanya, apa yang membuat Rocky Valentine pantas mendapatkan semua hal itu? 'A Nice Place To Visit' adalah salah satu dari sekian banyak episode yang membuat gw berpikir panjang sekaligus sesak napas pada saat credit titlenya nongol,  seandainya gw melakukan banyak dosa semasa hidup gw, dan kemudian gw mati, neraka jenis apakah yang akan menyambut gw? apakah neraka berupa api siksaan yang kekal? siraman timah yang panas? gw dimakan ayam raksasa? (efek kebanyakan baca buku siksa neraka pas masih kecil, gila ya, buku yang graphic violencenya liar begitu dijual dengan bebas di depan SD) Bagaimana jika seandainya di neraka nanti siksaan yang diberikan bukanlah siksaan fisik? melainkan siksaan berupa mental yang ga bisa dijelaskan dengan kata2. Di saat elu udah punya semuanya, pertanyaanya cuman satu, setelah ini apa? Merinding gw habis nonton ni episode, bener2 mindfuck dan literally blew my mind.

Ini adalah neraka yang cocok buat gw.




11. A Passage For Trumphet / Episode 32 / 1960 


Pernah merasa mau bunuh diri? kecewa sama kehidupan yang itu-itu aja? pengen ngerasain kehidupan setelah kematian? coba tonton episode ini, dan lu pasti mengerti maksud gw. A Passage For Trumphet nyeritain tentang seorang pemain musik yang  udah merasa gagal dalam karir musiknya, dan juga hidupnya sendiri. Merasa hidupnya tidak berarti lagi, Ia pun memutuskan untuk bunuh diri dengan menabrakan dirinya di jalan. Dengan akting dewa dari Jack Klugman (itu lo, yang jadi juri no.5 di 12 Angry Men), A Passage For Trumphet menghadirkan sebuah perjalanan membingungkan tentang seperti apa dunia setelah kematian, dan pada akhirnya, Klugman akan mencapai suatu titik dimana ia akhirnya sadar, kalau sebenarnya ada alasan mengapa dia, dan kita semua lahir di dunia ini. Ada alasan mengapa kita dilahirkan di dunia ini, tanyakan pertanyaan itu ke diri lu sendiri, 1 kali sehari, 7 kali seminggu, 365 kali setahun, then you will get the idea.



10. A Stop At Willoughby / Episode 30 / 1960


Garth William adalah seorang eksekutif agen periklanan yang baru saja mengalami hari yang suram, atasannya mendorong dirinya habis-habisan, istrinya tidak bangga dengan dirinya, walaupun kehidupannya berkecukupan, Ia merasa bahwa tidak ada satu orang pun yang mau mengerti dirinya. Garth, yang sedang dalam perjalanan pulang dengan kereta api pun tertidur dan terbangun dalam sebuah kereta tua yang berhenti di stasiun kereta api di sebuah kota bernama Willoughby, lewat kaca jendela keretanya, Ia melihat ketenangan dan kedamaian yang belum pernah Ia rasakan di seumur hidupnya. Saat hendak turun dari kereta dan hendak menginjakan kaki di Willoughby, Ia terbangun dan menyadari bahwa Ia baru saja sedang bermimpi. Di hari2 selanjutnya, setiap kali Ia terlelap tidur dalam perjalan pulangnya, Garth selalu bermimpi tentang Willoughby. Suatu ketika, Garth pun memutuskan untuk turun dari lokomotif tua dalam mimpinya, dan menginjakan kaki di kota Willoughby. Dengan alur penceritaan yang sebenarnya terlihat sederhana, 'A Stop At Willoughby' menceritakan tentang gimana seorang manusia yang ingin istirahat sejenak dan melepaskan diri ketegangan yang ada di dunia nyata, Garth William itu adalah refleksi diri kita sendiri, pernah terlibat masalah? ingin melepas lelah sebentar? tidur adalah jawabannya, tapi pernah ga lu mau tidur untuk selamanya dan ingin tinggal dalam kegelapan untuk waktu yang cukup lama, Rod Serling menampar kita dengan menunjukan bahwa sebenarnya hidup itu memerlukan masalah, karena seandainya kita tidak memiliki masalah, kita bukanlah makhluk hidup, melainkan makhluk yang tidak lagi bernyawa. Pernah ke kuburan? orang2 yang tinggal disana ga punya masalah hidup sama sekali kan?



9. Where Is Everybody? / Episode 01 / 1959


Episode pertama The Twilight Zone inilah yang akan menjadi cikal bakal gaya narasi 'sakit; Rod Serling di episode2 kedepannya. Nyeritain tentang seorang pria bernama Mike Ferris yang hilang ingatan dan tiba di sebuah kota yang tidak berpenghuni. Fokus utama episode ini adalah: "gimana seandainya lu hilang ingatan dan tinggal disendirian di dunia ini?" Manusia itu adalah makhluk sosial, sehari aja gak ngomong itu sakit banget rasanya, apalagi seandainya lu  gak ngomong sama sekali selama seminggu, sebulan. ato setahun. Where the fuck is everybody pengen menampilkan seberapa gilanya pengalaman claustrophobic di kota yang sebenarnya besar tapi sepi. Meskpun sepanjang episode ini, Mike Ferris hanya melakukan one-man-show di kota yang sepi itu (gak ada hantu atau apapun) tapi feel kekosongan dan atmosfer kehampaan benar2 terasa sepanjang durasi 25 menitnya, kudos buat Rod Serling karena telah membuat episode pertama The Twilight Zone ini menjadi bener2 immersive dan memukau, salut!



8. People Are Alike All Over / Episode 25 / 1960


Dulu tahun 2006, lagu Ratu (pas jaman si Mulan Kwek dan Maia Ahmad lagi bersatu padu) yang judulnya 'Lelaki Buaya Darat' itu sangat ngehits dan bener2 populer di sekolah gw, and somehow, tu lagu udah jadi lagu kebangsaan para kaum hawa di SD gw sekolah (tiap jam istirahat, lagu Lelaki Buaya Darat itu selalu muter2 ga jelas di Nokia 6600 para cewe), dan jujur, gw ga suka sama sekali dengan outcome lagunya, I mean, masa cuman cowok aja yang jadi buaya darat, cewek juga banyak kok yang buaya, liriknya sendiri bilang, si cewe juga punya banyak kekasih lain, nah lo. Lelaki Buaya Darat itu emang lagu paling munafik yang pernah ada di jagat raya, bit2nya emang bagus, liriknya ngepas dan enak banget, cuman ya itu, MUNAFIK, dan gw bener2 ga suka harga diri gw sebagai laki2 pretensius idealis elitist, diinjak2 oleh suara nyenye Mulan Kwek (gw ga berani menghina Maia karena Maia tetaplah wanita Indonesia yang ingin gw jadikan istri *seandainya ya, amin* setelah Wulan Guritno. Selera gw emang aneh ya, demen ama yang tua2 melulu)

Tapi Kritikus Film Gadungan, hubungan lagu Ratu sama episode The Twilight Zone itu  apa?

Sabar goblok, sebentar lagi kita kesitu.


Jangan ngaku anak generasi tahun 2000-an kalau ga tau lagu ini, dan btw, mungkin lagu Ratu inilah video klip Indonesia pertama yang menampilkan berbagai macam scene torture porn dalam videonya, hi serem ah.

People Are Alike All Over nyeritain tentang seorang Biologist bernama Sam Conard yang diberi misi untuk pergi ke mars dan mencari tahu ada apa sebenarnya di planet mars. Kalau lagu 'Lelaki Buaya Darat' itu menceritakan tentang seberapa jahat dan buayanya seorang lelaki (yang gw bener2 ga setuju, I mean  come on girls, temen gw yang cewe bahkan punya pacar 4 ORANG), maka People Are Alike Over berusaha memberi tahu lu bahwa makhluk hidup, dimanapun mereka, itu semuanya saja, mau laki atau cowo (eh), tua atau muda, homo ato lesbi, putih ato item, sipit ato bulet, manusia itu sama semua, ga ada bedanya, kayak kata Marcusson di episode ini: "As long as they've got minds and hearts, that means they've got souls. That makes them people." Meskipun dari segi logic ni episode kancrut banget (gile, astronot ke mars kagak pake helm), tapi dari segi pesan moral, nih episode moralnya bener2 menyimpang (walopun bener) dan bikin mulut gw menganga lebar kayak bapaknya Sinchan kalo ngeliat Sinchan lagi nonton bokep. So guys and girls, from now on, trust no one, ok? why? because people are alike all over.



7. One For The Angels / Episode 02 / 1959


Dari sekian banyak episode The Twilight Zone yang bawaanya suram melulu, One For The Angels adalah salah satu episode The Twilight Zone yang tone-nya itu cerah, pesan moralnya itu cocok buat semua umur dan kagak disturbing kayak pesan moral episode yang lain. Nyeritain tentang seorang salesman sederhana bernama Lou Bookman yang dikunjungi oleh Mr.Death. Tugas Mr.Death sebagai malaikat kematian adalah memberitahu Lou bahwa umurnya tidak lagi panjang, dan bertanya kepada Lou, kematian apakah yang cocok untuk Lou. Lou yang ketakutan karena hidupnya akan segera berakhir pun mulai mencari cara untuk mengulur waktu kematiannya. Setelah gw nonton 'Where is Everybody?' gw langsung dibawa Rod Serling untuk menyaksikan sisi berwarna dari The Twilight Zone, One For The Angels itu mengharukan, emosi gw campur aduk di episode ini, marah iya, sedih iya, ketawa iya, kecewa iya, gw dibuat merasakan berbagai macam perasaan nano-nano di episode ini. Ditemani dengan ending yang mengharukan dan bikin gw tepuk tangan kayak monyet, One For The Angels sukses membuat muka gw banjir air mata. Sayang, episode2 seperti ini jarang banget nongol di Twilight Zone lagi, dari 1 season paling cuman 3 episode yang kayak One For The Angels.



6. Time Enough At Last / Episode 09 / 1959


Speechless adalah satu2nya reaksi gw pas episode ini kelar, why? karena Time Enough At Last itu endingnya bener2 sakit dan bikin gw terguncang. Apa sih yang ada di pikiran Rod Serling dan Lynn Venable sampe kepikiran bikin ending yang bener2 dissapointing, tapi in a good way, bikin gw gak bisa tidur setelah episode ini kelar. Gw kecewa sama endingnya, tapi kecewa dalam artian kepikiran siang malem, bikin gw depresi dan mual2 sendiri, bajingan bener emang yang tukang nulis script!




5. And When The Sky Was Opened / Episode 11 / 1954


3 orang astronot yang mengalami kecelakaan luar biasa berhasil selamat, yang satu patah kaki dan dirawat di rumah sakit, yang duanya lagi sehat waalfiat dan lagi nongkrong minum minuman setan di bar. Saat sedang minum minuman setan, Ed harrington, salah satu astronot itu pergi ke wartel di bar dan menghubungi orang tuanya, gilanya, saat orang tuanya ditelpon, orang tuanya sendiri mengaku tidak pernah memiliki anak bernama Ed Harrington, kemudian, Ed Harrington mendadak menghilang begitu saja, bukti keberadaanya selama ini terhapus, dan tidak ada satu orang pun yang tahu kalau Ed Harrington pernah eksis di dunia ini, kecuai Clegg Forbes. Forbesyang ketakutan melihat temannya raib begitu saja kemudian berusaha mencari dimana temannya berada, sayangnya nasib berkata lain pada Clegg Forbes. Salah satu episode paling mencekam yang pernah ada di The Twilight Zone, gimana seandainya lu berasa di posisi Forbes dan mesti melawan kekuatan misterius yang tidak terlihat? sepanjang durasi 25 menitnya, gw dibikin bingung sekaligus terpukau dengan direksi dan gaya penceritaanya yang membingungkan, a bit surreal, but not that surreal, apa sih yang menyebabkan Harrington menghilang? kekuatan iblis? dendam kesumat mantan pacar? disantet dukun cabul? azab Auloh? entahlah, karena tidak ada jawaban yang pasti di Twilight Zone *mencoba meniru Rod Serling*



4. Third From The Sun / Episode 14 / 1960


Bagi sebagian orang, Third From The Sun itu episode yang cuman episode yang ngandelin twist di akhir cerita, padahal sebenarnya Third From The Sun lebih dari itu. Pernah nonton Dr.Strangelove or: How I Learned To Stop Worrying and Love The Bomb Kubrick? theme Third From The Sun mirip seperti itu. Nyeritain tentang 2 keluarga yang sedang bersiap2 pergi ke luar angkasa karena negara mereka akan segera menghadapi perang dunia ke-3 yang notabene adalah perang nuklir. Di akhir tahun 50-an paranoia perang dunia ke-3 itu merupakan isu yang paling menakutkan, orang2 ketakutan akan terjadinya kiamat, bumi tidak bisa lagi dihuni karena radiasi nuklir, perang nuklir antara Amerika dan Rusia. Third From The Sun merupakan episode yang memanfaatkan paranoia perang nuklir dan sukses membuat warga amerika sangat ketakutan pada waktu itu, seandainya aja gw lahir tahun 50-an, mungkin episode ini bakal lebih mengena buat gw. Gw masukin di posisi ke-4 karena unsur suspense di episode ini sangatlah kental, oh dan twistnya? fucking genius, bener2 unpredictable, gila ya, tahun 50an ternyata ada aja orang yang kepikiran bikin ending dewa kayak Third From The Sun.



3. The Hitch-Hiker / Episode 16 / 1960


Teman-teman, inilah episode The Twilight Zone paling menyeramkan yang ada di season 1, nyeritain tentang seorang wanita bernama Nan Adams yang pergi keluar kota dengan mengendarai mobil. Dalam perjalanannya, Ia melihat seorang pria (liat gambarnya diatas) yang minta tumpangan, ketakutan karena wajah pria itu bener2 menakutkan (liat gambarnya diatas), Nan Adams pun melewati orang itu dan pergi meninggalkannya. Namun sayangnya, seberapa cepat Nan Adams menginjakan gas mobilnya, Ia selalu melihat orang itu, di pinggir jalan, di persimpangan lampu merah, di perhentian kereta api, di pom bensin, kemanapun Nan Adams menginjakan gas mobilnya, laki2 misterius itu pasti selalu ada setiap saat, meminta tumpangan.


Lagu inilah yang paling pas untuk menemani kemalangan Nan Adams.

Menakutkan, menegangkan, mencengangkan, mendebarkan, menghangatkan, dan merangsang, hal2 itulah yang membuat gw menobatkan episode ini sebagai episode terseram di season 1. Sumpah teman-teman, film horor itu udah ga mempan lagi buat gw (kecuali horor Thailand, you know lah), cuman The Hitch-Hiker ini bener2 nakutin sumpah, asli dah, mau pingsan gw pas ngeliat mukanya si Hitch-Hiker. Padahal dia ga ngapa2in, cuman minta tumpangan doang, ngegigit kagak, ngebunuh kagak, memerkosa kagak, dia cuman minta tumpangan doang aja udah bikin gw takut setengah mati, apalagi kalau sampai dia ngomong. Inger Stevens memberikan performa yang gila2an sebagai Nan Adams, seorang wanita yang diteror oleh om2 yang minta tumpangan, dan akting Leonard Strong yang berperan sebagai The Hitch-Hiker bener2 SAKIT dan DISTURBING, padahal Leonard Strong cuman ngomong 2 kalimat di episode ini, tapi tatapan matanya itu yaoloh, mau mati berdiri gw ngeliatnya. Dengan direksi yang bener2 keren oleh Alvin Ganzer, scoring musik yang bikin bulu burung gw berdiri, hingga (lagi2) TWIST yang bikin mata gw melotot kayak Arya Wiguna yang marah dan melontarkan amukan demi Tuhan karena popularitasnya direnggut oleh Vicky Prasetyo, 25 menit benar2 tidak terasa saat nonton episode ini, tau2 udah habis. Dan Btw, R.I.P buat Inger Stevens (1934-1970) padahl doi cantik bener dan aktingnya keren, sayang banget umurnya pendek, tapi ya, yang namanya umur siapa yang tahu ya...*malah kotbah*

Every Breath You Take...
Every Move You Make...
Every Bond You Break...
Every Step You Take....
...................
........
....
..
.




2. The Monsters Are Due On Maple Streets / Episode 22 / 1960


Di sebuah hari yang tenang di jalan Maple, para warga disana tiba2 mendengar dan melihat sesuatu jatuh dari langit, kemudian setelah itu, berbagai macam peralatan elektronik pun mulai mati, seorang anak lelaki yang tinggal di sekitar situ pun memberitahu para penduduk bahwa ini pasti ulah alien yang menyamar dalam wujud manusia seperti di komik yang ia baca, para orang tua jelas skeptis dan tidak percaya dengan penjelasan anak itu, namun lama kelamaan, paranoia pun dimulai, para warga mulai curiga satu sama lain, dan mulai saling menuding bahwa salah satu dari mereka adalah alien yang sedang menyamar. Sekarang coba kita ganti setting dan ceritanya: Di sebuah kecamatan yang damai dan cerah di kota bernama Akarjat, sebuah banjir menghantam rumah warga dengan liar, 2 bulan lebih banjir setinggi 200 meter menyengsarakan para warga, para warga yang awalnya gotong royong dan saling bahu membahu menghadapi bencana alam pun mulai menuding bahwa lurah SUSUMAM yang berbeda suku dan beragama minoritas-lah yang telah menyebabkan banjir dan menyengsarakan penduduk, para penduduk pun mulai mendemo lurah SUSUMAM dan ingin beliau turun dari jabatannya, meskipun secara logic, banjir tersebut bukanlah salah lurah SUSUMAM. See? masuk gak cerita The Monsters Are Due On Maple Streets dengan kondisi Indonesia jaman sekarang? Rod Serling dengan jeniusnya, membuat sebuah situasi yang merefleksikan masyarakat sekarang, dimana masyarakat dengan lemahnya, digoyang dan diberi isu sedikit, sudah langsung jatuh dan kehilangan identitas. Kritik Rod Serling di episode ini bener2 efektif, dan buat gw pribadi, satir dan makna ceritanya masih bisa dipake dan gak lekang di makan jaman meskipun ni episode umurnya udah 50 tahun lebih. Definitely one of the best The Twilight Zone episode ever made!



1. Walking Distance / Episode 05 / 1959


Martin Sloan, seorang vice president perusahaan periklanan menghentikan mobilnya di sebuah pom bensin. Dengan air muka yang benar2 menyedihkan (mau nangis gw ngeliat mukanya), Martin meminta montir di pom bensin itu untuk menservis mobilnya. Saat sedang menunggu mobilnya diservis, Ia melihat papan bertuliskan Homewood, tempat Martin tumbuh besar semasa kecil. Martin yang sudah 25 tahun tidak pernah kembali ke kampung halamannya pun mulai berjalan kaki menuju Homewood untuk kembali mengenang masa-masa kecilnya saat Ia tumbuh berkembang, namun sayang, Ia tidak tahu, kalau Ia akan mengalami sebuah kejadian yang akan mengubah hidupnya 180 derajat. Terkadang, kita sebagai orang dewasa merasa sangat ingin kembali ke masa kanak-kanak, why? karena masa-masa saat masik kanak-kanak, adalah masa-masa yang paling menyenangkan. Saat kanak-kanak, sebagian dari kita tinggal dengan orang tua dan mendapat kasih sayang sepenuhnya, namun saat kita menjadi dewasa, kita dibuat sadar, bahwa kebahagian semasa kecil itu telah hilang saat kita telah mulai berumur. Kita semua adalah Martin Sloan, para manusia sinis yang iri dengan diri sendiri di masa kecil, manusia dengan kebahagiaan tipis yang iri dengan mereka yang masih bisa mandi bola dan masih bisa digendong oleh ayah mereka. Lewat Walking Distance, Rod Serling membuat gw sadar, kalau masa kecil kita sudah lewat, dan kita harus mengakui kalau kita tidak lagi berhak untuk mengalami masa-masa penuh kebahagian dan keceriaan seperti itu lagi, kita harus move on, dan merelakan hak masa kanak-kanak kita direnggut oleh mereka yang masih pantas, dan lebih layak untuk mendapatkannya. 


——————————————————————————————————-
So that's it guys, 13 episode terbaik The Twilight Zone versi gw, and so far, Walking Distance adalah episode Twilight Zone favorit gw, ga tau dah apakah akan ada episode yang lebih bagus dari Walking Distance di season-season berikutnya. Btw, kalau lu juga demen ama The Twilight Zone, share di kolom komentar ya apa aja episode Twilight Zone yang mengena dan personal buat lu, ato kalo lu ada rekomendasi series lain yang kali aja belum gw tonton, share dimari ya.

11 comments:

  1. Dari dulu penasaran bgt sama series yg satu ini, mau coba mulai nntn tapi bingung jg mulai darimana haha ntar lah kapan2 nyoba dari season 1. Btw nice article!

    ReplyDelete
  2. Saran ane coba nonton tv movie The Time Element, bikinan Rod Serling sebelum bikin Twilight Zone, baru habis itu coba pilotnya (yang episode where is everybody) then barulah ikutin semua Twilight Zone dari season 1-5. Siip, makasih udah berkunjung ya gan.

    ReplyDelete
  3. Gan, nonton darimana? Download atau beli kaset sendiri?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gw beli di kaskus gan, soalnya kalau download kecepatan internet gw lambat banget, gw beli Twilight Zone di agan ini bero: http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000006124213/nostalgia-time-friday-the-13th-friends-knight-rider-macgyver-the-x-files-dll/

      Delete
  4. Bikin Review Braking Bad dong gan.....Katanya serial favorit, tapi ga di bikin review nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saking PERFECT-nya gw bingung kata2 apa yang bagus buat Breaking Bad, kehabisan kata2 udah gw

      Delete
    2. Usahain lah... Susah ni nyari review Breaking Bad yang Bahasa Indonesia.

      Delete
    3. Siip2, ntar kalo ada waktu senggang ane review gan, maklum ini sibuk banget mau UN

      Delete
    4. Mantap dah... O iya gan, sekali-sekali review anime boleh tuh. Review-in Attack On Titan. Mantap bener tu anime. Kebanyakan minta ya gue?? Hahahaha.. Yang jelas Keep Posting aja gan... Gw suka cara lu nge-review. Gak sok pintar dan aman dari spoiler.

      Delete