Thursday, August 9, 2012

Blue Velvet (1986) Review.


Setiap umat manusia pasti memiliki cerita tersendiri tentang hal2 yang disukainya, sebagai contoh, gw suka Message in A Bottle-nya The Police karena tu lagu masuk ke telinga pas gw lagi muak sama lagu2 Indonesia (sebelum gw suka The Police, Peterpan itu grup musik favorit gw pas masih SD), Nasi Goreng itu makanan favorit gw sepanjang masa karena Nasi Goreng itu makanan non instant pertama yang berhasil gw bikin sendiri, dan gw suka BLUE VELVET kaena nih film mampir ke laptop gw pas gw masih masih umur 15 tahun (agustus 2012 rasanya), dan dari sekian banyak film yang gw tonton (pas gw masih 15 tahun), mungkin Blue Velvet-lah satu2nya film yang bener2 mempengaruhi gw dan membuat mata gw terbuka lebar2.


Adegan pertama dibuka dengan gambar kota Lumberton yang tenang dan damai. Ada pemadam kebakaran yang dadah2 ke arah kamera, anak2 sekolah menyeberang jalan, seorang pria menyiram tanaman, diringi lagu 'Blue Velvet' yang dinyanyikan om Bobby Vinton, kota Lumberton seakan2 terlihat sebagai sebuah kota kecil yang sebenarnya biasa2 saja. Di kota inilah Jeffrey Beaumont (Kyle MacLachlan) memulai petualangannya, Jeffrey, yang sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit menemukan sebuah kuping manusia, penasaran dengan kuping itu, ia kemudian membawa kuping tersebut ke seorang detektif bernama John Williams (George Dickerson). Setelah menyerahkan kuping itu, Sandy, anak detektif Williams (Laura Dern) menghampiri Jeffrey dan memberitahu Jeffrey kalau sebenarnya potongan kuping tersebut memiliki hubungan dengan seorang penyanyi yang tinggal di apartemen dekat rumahnya, Dorothy Vallens (Isabella Rosellini). Jeffrey yang penasaran akan misteri itu pun memutuskan untuk menyamar menjadi seorang pembasmi serangga dan akan mencuri kunci apartemen Dorothy untuk mengintip dan mencari-tahu apa yang sebenarnya terjadi di apartemen itu.


Alur cerita Blue Velvet pun mengalir dengan lancar dan straight to the point, tidak ada subplot menye2, tidak ada yang namanya jokes2 garing, gak ada juga yang namanya durasi kelamaan atau kecepatan, David Lynch membuat semua komposisi adegan yang ada di film ini begitu pas dan seimbang, tidak sampai di situ, gaya penceritaan terbatas pun menambah unsur suspense yang ada di film ini, ini terbukti meskipun gw udah 5 kali nonton Blue Velvet, nafas gw ampe sekarang masih sengap-sengap tiap kali ngeliat adegan Jeffrey yang mengintip dari dalam lemari baju Dorothy Valles, gila bener emang David Lynch.


Dibanding dengan karya Lynch yang lain, Blue Velvet memiliki plot yang ringan dan ga terlalu berat, tapi dari segi estetika, Blue Velvet lah yang paling unggul (disusul Mulholland Drive), why? karena Blue Velvet itu kayak sebuah lukisan yang dijadiin film, coba aja pause any moment yang ada di film ini, dan my god, what a picture, kayak lukisan, setiap screenshots yang ada di Blue Velvet itu artsy banget, versi gelapnya Barry Lyndon mas Kubrick, salut gw sama prop designernya Lynch, dengan budget gelandangan aja dia bisa bikin background2 yang minimalis tapi eyecatchy dan dreamlike, apalagi kalau sampai budgetnya dinaikin, beuh.

DON'T YOU FUCKING LOOK AT ME!
Dari segi direksi, Blue Velvet ini sempurna banget, dialog2nya pun gak ada yang cliche dan bodoh, shot yang sangat vibrant dan nuansa khas kegelapan David Lynch bener2 terasa, TIRAI MERAH yang nongol di Twin Peaks juga nongol di sini. Akting tiap pemain juga sangatlah bagus, mulai dari character development Jeffrey Beaumont yang bener2 rusak, terus akting Isabella Rosellini yang gak cuman nampilin nenen dan vagina doang, tapi akting gila2an sebagai seorang wanita pyshcyo jablay pun dia penuhi dan pantas mendapat A++, sampai akting Dennis Hopper yang berperan sebagai Frank Booth harus gw acungi jempol aktingnya, bener2 gila dan jahat. tiap2 kalimat yang Frank Booth lontarkan pun selalu bikin telinga gw gatal, why? karena dia selalu nempatin kata2 FUCK yang poetic di tiap kalimat yang ia ucapkan, kayak:

"DON'T YOU FUCKIN LOOK AT ME!"

"BABY WANTS TO FUCK, BABY WANTS TO FUCK BLUE VELVET!"

"SUAVE! YOU GODDAMN SUAVE FUCKER!"

"DON'T TOAST TO MY HEALTH, TOAST TO MY FUCK!"

"LET'S HIT THE THE FUCKIN ROAD!"

"YOU RECEIVE A LOVE LETTER FROM ME, YOU ARE FUCKED FOREVER!"

"FUCK YOU, YOU FUCKING FUCK!"

"GET READY TO FUCK, YOU FUCKERS FUCKER, YOU FUCKER!"

dan banyak lagi.

kalo ini favorit gw:

"LET'S FUUUUUUUUUUUUUUUUUCK, I'LL FUCK ANYTHING THAS MOVES, HAHAHAHA."


Sifat dasar manusia itu mengintip, definisi mengintip pun di era sekarang sebenarnya berbeda dengan definisi mengintip jaman dulu. Kalau jaman dulu mengintip itu selalu identik dengan lubang kecil yang ada di dinding, maka jaman sekarang, mengintip itu bisa saja di lakukan lewat socmed macam twitter, facebook, blog pribadi, dan berbagai macam socmed yang lainnya, kita hidup di mana aktifitas intip-mengintip sedang berada di puncaknya, infotaiment pun merupakan kegiatan intip-mengintip, di mana kita sebagai penonton, mengintip kehidupan pribadi para artis, tanpa disadari, kita mirip Jeffrey Beaumont, gausa bohong2 deh, ngaku aja yang tiap hari kerjaanya nge-stalking akun orang di twitter :P



Buat gw, Blue Velvet itu adalah film yang bener2 personal, film yang bercerita tentang kegiatan mengintip berbuah obsesi, di mana karakter utama yang sebenarnya tidak ada hubungan dengan objek yang diintip pun akhirnya terobsesi dan terlibat dengan masalah yang dialami oleh sang objek. Rasa ingin tahu yang berlebihan itu memang menjerumuskan, mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi itu memang memuaskan batin (atau nafsu?), seperti mengintip update tweet orang yang kita sukai, melihat sms dan file handphone teman kita (nyari bokep ceritanya), ngintip orang lagi melepaskan libido (nonton bokep), mengintip orang mandi, membajak blackberry teman, kegiatan intip mengintip itu memang wajar dan memang naluri alamiah manusia untuk mengetahui hal2 yang tersembunyi, pertanyaanya, sampai mana kita berani mendobrak batasan moral dan norma yang berlaku untuk mendapatkan informasi yang kita inginkan? 

Akhir kata, mengintip dan mengamati suatu objek bukanlah sebuah kebiasaan yang abnormal, manusia sebenarnya hanya ingin tidak berbicara dengan lawan bicaranya lewat mengintip, entah karena perasaan takut berkomunikasi, takut salah tingkah, malu, dan berbagai macam hal lainnya, mengintip secara sembunyi-sembunyi pun dijadikan alternatif bagi pihak yang ingin mengobservasi apa yang sang objek hendak lakukan. Menonton Blue Velvet akhirnya serasa seperti menontoni diri sendiri yang tengah mengamati kegiatan apa yang sang objek lakukan, saat Jeffrey Beaumont mengintip Dorothy Vallens bercinta dengan Frank Booth, gw seperti menyaksikan diri gw sendiri yang menyaksikan wanita idaman gw sedang berbicara dengan lawan jenis di facebook, agak menyimpang memang, namun memuaskan. Kesimpulannya? Mari mengintip.

"Evil manifests itself in the most unlikely places."

0 comments:

Post a Comment