Saturday, June 7, 2014

The Grand Budapest Hotel (2014) Review


AKHIRNYA! Film yang gue tunggu-tunggu selama ini nongol (walaupun masih di torrent)! Sebagai pengagum karya-karyanya Wes Anderson yang apik-apik tenan, film ini emang patut diwaspadai keberadaannya, berhubung emang Wes Anderson selama ini belum pernah membuat film-film yang mengecewakan. Mulai dari Rushmore, The Royal Tenenbaums, Fantastic Mr. Fox, Moonrise Kingdom. Dan sekarang, The Grand Budapest Hotel menunggu giliran untuk membuat kita terpukau, sodara-sodaraku semuah.


Film yang terinspirasi dari karya-karyanya Stefan Zweig ini pun bermula dari prolog yang dibawakan seseorang yang disebut sebagai The Author (ini yang versi tua, diperanin sama Tom Wilkinson) di tahun 1985. The Author menceritakan pengalamannya waktu dia pergi ke Grand Budapest Hotel di wilayah fiktif bernama Zubrowka di tahun 1968. Ketika The Author (nah ini yang versi mudanya, diperanin sama Jude Law) datang ke hotel itu, dia menemui Zero Moustafa (F. Murray Abraham), si pemilik Grand Budapest Hotel, dan ngobrol bareng sama Zero. The Author pun bertanya-tanya, bagaimana caranya si Zero, kakek-kakek bertampang seperti duplikatnya Abraham Lincoln begitu malah bisa punya hotel sekeren Grand Budapest Hotel? Pertanyaannya pun akhirnya kejawab, si Zero gak ngebeli hotel itu, tapi hotel itu dihibahkan oleh Monsieur Gustave (diperankan secara ciamik bin top markotop oleh Ralph Fiennes), bekas pemilik Grand Budapest Hotel yang dulunya adalah kepala concierge (semacam resepsionis kalo disini) di hotel yang sama.


Zero Moustafa pun menceritakan pengalaman epic-nya bersama Monsieur Gustave kepada The Author.

Sekitar tahun 1932, Grand Budapest Hotel kedatangan seorang lobby boy baru bernama Zero Moustafa (ini Zero versi waktu muda, diperanin oleh Tony Revolori). Sebagai kepala concierge di hotel itu, Monsieur Gustave pun menuntun Zero biar bisa jadi lobby boy yang baik dan benar di Grand Budapest Hotel. Makin lama, Monsieur Gustave dan Zero makin akrab dan menjadi sahabat karib, walaupun mereka punya latar belakang dan sifat yang rada-rada beda. Monsieur Gustave yang flamboyan, necis, puitis, demen nenek-nenek blonde yang tajir, bersahabat dengan Zero, seseorang yang lolos dari perang dan tinggal sebatang kara di Zubrowka, dan bawaannya suka awkward kalo ngomong sama orang lain.


Suatu hari, Monsieur Gustave yang demen nenek-nenek blonde binti tajir ini akan melepas kepergian Madame D. (diperanin Tilda Swinton), *salah satu* kekasihnya yang nginep di Grand Budapest Hotel yang minta Monsieur Gustave buat ‘nemenin’ dia di hotel itu. Kira-kira sebulan kemudian, Monsieur Gustave dikagetkan dengan berita bahwa Madame D. meninggal secara misterius. Monsieur Gustave dan Zero pun pergi ngelayat ke kediaman Madame D. dan (sekali lagi) dikagetkan dengan fakta bahwa Madame D. mewasiatkan sebuah lukisan bernama “Boy with Apple” untuk Monsieur Gustave sebelum ia meninggal. Anak cowoknya Madame D. yang bernama Dmitri (diperanin Adrien Brody) pun gak terima dengan isi surat wasiat itu. Lalu secara diam-diam, Monsieur Gustave dan Zero pun mencuri lukisan “Boy with Apple” karena mereka takut bahwa lukisan itu bakal diambil paksa oleh Dmitri.


Setelah peristiwa pencurian lukisan itu, Monsieur Gustave dipenjara atas tuduhan pembunuhan terhadap Madame D., dan Dmitri pun mulai mengutus seorang pembunuh berdarah sedingin laut Antartika bernama Jopling (diperanin oleh Willem Dafoe) untuk memburu Serge X (diperanin oleh Mathieu Amalric), yang notabene merupakan saksi mata pembunuhan Madame D.

Di samping itu, si Zero ternyata jatuh cinta pada gadis imut dengan tanda lahir segede Mexico di pipinya (gadeng), yang bernama Agatha (diperanin oleh Saoirse Ronan). Agatha ini seorang pembuat kue dari patisserie terenak dan terkenal se-Zubrowka bernama Mendl’s. Agatha pula yang kelak bakal membantu Monsieur Gustave dan Zero untuk nyoba lolos dari ancaman-ancaman yang bakal mereka hadepin kedepannya. And yes, i want some lil' towers of cream-filled pastries from Mendl's, please!


Nah, terus gimana kelanjutan cerita si Monsieur Gustave dan Zero dan apakah mereka berhasil lolos dari sergapan orang-orang yang ngintai mereka? Apakah si Zero sama Agatha bakalan berakhir dengan happy ending? Lalu siapakah sebenernya yang ngebunuh Madame D.? Makanya tonton filmnya vroh!

But really guys, Wes Anderson’s movies never fail me at all. The Grand Budapest ini bener-bener menyajikan sinematografi yang bener-bener kece dan eye candy, walaupun menurut gue Moonrise Kingdom masih lebih eye candy dibanding The Grand Budapest Hotel. Dan kalo dilihat dari segi pembawaan plotnya yang mirip-mirip sama film Submarine arahan Richard Ayoade di tahun 2010 dengan menyajikan beberapa story parts, menurut gue sih The Grand Budapest Hotel ini berhasil menjelaskan plot yang kalo gak pinter-pinter ngolahnya, bisa jadi complicated. Dengan banyaknya casts dan kisah pengalamannya Monsieur Gustave dan Zero yang lumayan banyak tahapnya, Wes Anderson beserta kru-krunya berhasil mengolah plotnya dengan baik.

Dan bagi yang udah pernah nonton film-filmnya Wes Anderson yang sebelum-sebelumnya, pasti inget kalo Wes Anderson punya trademarks tersendiri yang begitu unik di setiap film-filmnya. Yes, one of them is the music! Bukan film Wes Anderson namanya kalo musiknya gak catchy! Arahan musik dari Alexandre Desplat yang berunsur baroque yang kental dan dengan adanya sentuhan folk dan classic pun bikin kita serasa nostalgia semacam berada di Eropa pada era jaman Perang Dunia II.


Dan jangan pula lupakan soal segi acting dari para casts-nya! Ralph Fiennes yang selama gue kenal sebagai Voldemort yang maha kutukupret, menjelma jadi Monsieur Gustave yang sampai sekarang bikin gue kagum. Pembawaannya yang puitis, romantis, necis, dan suka ngomong cepet itu bener-bener unforgettable and memorable. Bener-bener two thumbs up buat Ralph Fiennes! Selain Ralph Fiennes, gue berhasil dibikin greget sama si Jopling yang diperanin sama Willem Dafoe. Kehadirannya itu gak mendominasi, tapi tiap dia ada, gue selalu dibikin gemes bin greget sama dia. Dari demen mengintai sampai dia mulai ngebunuh-bunuh orang, dia berhasil bikin gue ngomong “JUST. DON’T.” tiap dia mau melakukan sesuatu. Orangnya irit banget kalo ngomong, tapi liat tampangnya aja minta gue bejek-bejek. Sumpah dah. 

Dan gue gabakal lupa sama adegan Monsieur Gustave dan Zero yang nyoba ngejar Jopling sambil nge-ski, somehow itu adegan yang bener-bener ngelawak buat gue. And yup, adegan tembak-tembakan di dalem hotel itu bener-bener bikin gue surprised dan cengo sambil ngomong "HAH.... LHA KOK... Oh yowes."

Acting dari Tony Revolori dan Saoirse Ronan yang notabene masih pemain baru, lumayan bisa mengimbangi acting Ralph Fiennes dan supporting casts yang lain, yang tentu lebih senior dari mereka. Acting dari Adrien Brody yang meranin jadi Dmitri yang picik disini menurut gue juga bagus, gue emang udah kagum sama actingnya dia dari jaman nonton film King Kong sama The Pianist, dan emang belum pernah mengecewakan buat gue, so far.



Intinya, The Grand Budapest Hotel ini bener-bener patut buat ditonton oleh kalian-kalian semua. Gue sih secara pribadi menganggap film ini sangat enjoyable buat ditonton. Walaupun film ini gak menyisakan moral values yang bener-bener mendalam buat gue, tapi percayalah guys, The Grand Budapest Hotel is really worth watching.


5 comments:

  1. Salam kenal.. Tukeran link yuk... Link-nya sudah saya tambahkan.. :)

    http://www.cinejour.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga! Link-nya Cinejour sudah ditambah di KFG juga ya :)

      Delete
  2. Grand Budapest Hotel ini kapan nongol di 21 yha...... #MasihTetepSetiaMenunggu

    ReplyDelete
  3. Filmnya ngebingungin, atau akunya aja yang selera humornya nggak nyampek?

    ReplyDelete
  4. film ini bagusss bangettttttt :D

    ReplyDelete