Thursday, June 12, 2014

Mari Lari (2014) Review

Jadi, disaat orang-orang sibuk antre nonton How To Train Your Dragon 2, 22 Jump Street, dan Maleficent gua malah menonton film ini. Dan hebatnya ketika gua masuk bioskop YANG NONTON CUMA 3 ORANG (termasuk gua), 2 orang itu berpacaran dan duduk di depan dan gua sendiri duduk di paling belakang. Dan ketika pertengahan film kedua orang itu pun hilang (entah mereka ke toilet bareng, atau arwah penunggu bioskop, atau lagi...... Ah sudahlah.) dan pas film kelar mereka baru muncul lagi (dan gua udah punya prediksi mereka ngapain.). Lantas gimana kualitas filmnya? apa memang jelek makanya yang nonton dikit? ataukah underrated? Temukan jawabannya di review gua.

Ini dia alasan gua nonton mari lari

Sinopsis:
Film ini menceritakan tentang seseorang bernama Rio (Dimas Aditya) seorang pemuda tanggung yang ga pernah menyelesaikan sesuatu dalam hidupnya (yang gak ngerti ibaratin lu lagi bawa kendaraan lu dari rumah ke tempat a. Tapi, sebelum sampai ketempat a lu berhenti dan malah menuju tempat b. kayak gitu). Hal itu membuat Rio dianggap mengecewakan oleh ayahnya (lupa gua nama ayahnya siapa. Pokoknya yang meranin Donny Damara aja). Dan, setelah ibu Rio meninggal hubungan Rio dan bapaknya pun makin renggang. Untuk menghormati ibunya yang dulu pelari, Rio mendaftarkan diri untuk ikut marathon 40km di Gunung Bromo. Tentu saja hal ini ditentang oleh sang ayah karena sang ayah masih menganggap Rio belum bisa menyelesaikan apapun apalagi marathon 40km. Merasa diremehkan oleh ayahnya, Rio pun mulai berlatih lari agar sanggup menaklukan marathon 40km. Dan disanalah Rio bertemu Anisa (Olivia Jansen) cewek manis bin cantik yang seorang pelari handal. Dan dimulailah latihan Rio dengan Anisa berlari keliling jakarta dan apakah Rio bakal berhenti ditengah jalan lagi? Makanya tonton gih filmnya.


Review:
Alih-alih menghadirkan petualangan seseorang from zero to hero film ini lebih menghadirkan sebuah kisah pemuda tanggung yang ingin berubah dan diakui oleh sang ayah. Ya, sepanjang 100 menit kita dihadirkan sesosok pemuda yang awalnya lari 1km udah megap-megap lama-lama bisa sampe 10-20km. Ditemani oleh lagu-lagu alexa dan tata musik yang bikin gua pengen nanyi (kalo gak ada tuh 2 orang gua udah nanyi mungkin) adegan larinya pun yang gua kira bakal boring malah bikin gua cengar-cengir kesenengn sendiri. Dan adegan puncaknya ketika di Bromo yang betul-betul keren dan klimaksnya yang sangat menyentuh. Soal akting para pemainnya, gua paling demen sama aktingnya Donny Damara sama Dimas Aditya. si Donny yang juga tampil memukau di lovely man kembali tampil bagus sebagai seorang bapak (gua ga nyangka badannya bisa kekar gitu). Si Dimas juga berhasi membawakan peran sebagai seorang pemuda tanggung yang ingin menjadi lebih baik. Olivia Jansen juga ga hanya tampil manis bin cantik di film ini. Dia berhasil tampil sebagai mentor Dimas dalam berlari sekaligus love interest. 

Ini untuk kalian yang ga pernah dikedipin sama cewek
Overall: Bukan film yang sempurna memang. Tapi kita patut berbangga karena masih ada filmmaker Indonesia yang niat bikin film 'bener'. Dan semoga banyak film 'bener' yang nongol dan juga film-film kacrut (terutama yang horror) ala Nayato buru-buru musnah dari muka bumi ini.

Rate: 8,0 

fyi, film ini juga ngasih tips-tips buat lari untuk pemula loh.


0 comments:

Post a Comment