Friday, April 18, 2014

The Virgin Suicides (1999) Review


Sebelum gue ngereview film ini, gue mau ngingetin baek-baek aja nih. Yang main film ini bukan mbak Mita dan Dara dari duo The Virgin. Jangan mentang-mentang judulnya begitu, kalian mikirnya mbak-mbak The Virgin ini udah putus asa sama hidup dan ngerencanain bunuh diri lalu difilmkan. Okay? Bagus lah kalo kalian udah punya pengertiannya. Makasih makasih.



Bersetting di Michigan tahun 70an, The Virgin Suicides yang diadaptasi dari novelnya Jeffrey Eugenides ini menceritakan tentang keluarga Ronald Lisbon (James Woods), seorang guru di sebuah SMA yang beristrikan Sara Lisbon (Kathleen Turner). Ronald dan Sara Lisbon memiliki 5 anak yang cantik-cantik, yaitu Lux (Kirsten Dunst), Cecilia (Hanna R. Hall), Bonnie (Chelse Swain), Therese (Leslie Hayman), dan Mary (A. J. Cook). Lux dan saudara-saudaranya adalah adolescents yang hidup dibawah pengaruh orangtuanya yang religius dan konservatif, dan juga terkesan sangat otoriter dan strict. Di neighborhood nya keluarga Lisbon, ada 4 cowok yang suka ngumpul dan diem-diem suka ngomongin tentang Lisbon Sisters ini. Kenapa Lisbon Sisters jadi bahan pembicaraannya para cowok ini? Karena mereka cantik-cantik, ceria, but very mysterious and depressed at the same time.


Si bungsu yaitu Cecilia pun sering mencoba untuk bunuh diri, karena tidak tahan oleh orang tuanya yang sangat mengekang kehidupannya dan saudara-saudaranya. Akhirnya pun Cecilia *berhasil* bunuh diri setelah kesekian kalinya ia gagal untuk mencoba bunuh diri. Hal ini pun berdampak pada keharmonisan keluarga Lisbon. Yang tadinya suram, jadinya tambah suram dan makin depressing untuk Lisbon Sisters. Puncak klimaks pun terjadi ketika Lux berhubungan seks dengan Trip Fontaine (Josh Hartnett), si cowok populer di sekolah, setelah prom night di lapangan sekolah yang akhirnya ditinggalkan oleh Trip tanpa alasan yang jelas. Semakin hari Ronald dan Sara Lisbon mengekang anak-anaknya, dan anak-anaknya pun juga makin lama makin memberontak pada orang tuanya.



Selama gue nonton film ini, gue gapernah bosen sama sekali nonton The Virgin Suicides. Bener-bener thumbs up buat Sofia Coppola yang udah berhasil bikin film yang punya tone eye candy dan vibrant, namun sama sekali gak kehilangan sisi suram dari plot film ini sendiri. Gue bener-bener ngerasa dimanjakan oleh sinematografinya ketika nonton film ini, rasa-rasanya emang film ini bener-bener ngewakilin jiwa-jiwa adolescents yang bener-bener vivacious, but also depressed. Dan juga thumbs up buat music scoring nya yang lagu-lagunya itu bener-bener bagus dan memorable banget. Gak heran sih kalo film-filmnya mbak Sofia ini banyak diisi lagu-lagu yang memukau.

Ada satu adegan yang menurut gue memorable banget, yaitu ketika Lisbon Sisters udah ngerasa terkekang di dalam rumah mereka sendiri, lalu mereka mengirimkan signals ke 4 cowok yang suka ngomongin mereka. Lewat telepon, mereka mengirimkan signals tentang apa yang mereka rasakan lewat memutarkan lagu di vinyl dan diperdengarkan lewat telepon. Dan gue inget banget, ada lagu Run To Me nya Bee Gees (yang notabene lagu favorit gue sama bokap gue) di adegan itu, spontan aja gue makin ngerasa miris sendiri sama nasib Lisbon Sisters ini.


Pas gue nonton film ini pertama kali, awalnya gue hanya enjoy nonton film ini karena sisi sinematografinya, dan dengan begonya mengesampingkan jalan cerita yang disuguhkan film ini dan juga awalnya gue rada gak ngerti-ngerti amat sama plot ceritanya. Tapi semua itu berubah setelah gue beli novelnya di toko buku dan ngebaca novel itu hanya dalam waktu sekitar 3 hari. Karena gue bener-bener terkesima sama novelnya, gue pun berniat untuk revisit film ini. Walhasil gue yang tadinya cuman pasang tampang datar waktu nonton film ini untuk pertama kalinya, akhirnya nangis sejadi-jadinya setelah nonton film ini pas nonton film ini lagi. 

Buat gue, film ini emang sebenernya film adaptasi yang bagus dan cemerlang banget, seandainya para penontonnya udah pada baca novelnya sebelumnya. Tapi bagi yang nonton film ini dulu dan baru baca novelnya kayak gue, ya wajar aja kalo lo rada-rada bingung dan hooh hooh doang reaksinya. Malah banyak juga yang bilang alurnya terlalu slow, well, but not for me.


Oiya, mau curcol bentar. Awalnya gue tau tentang film ini karena Tumblr sekitar 2 tahun lalu, maklumlah karena gue emang tiap hari suka main Tumblr. Tapi ternyata, awal perkenalan gue sama film ini bukan hanya dari Tumblr semata, melainkan juga dari soundtrack filmnya. Iya, soundtrack filmnya yang judulnya Playground Love yang dinyanyiin oleh band asal Prancis bernama Air. Jadi waktu jaman TK sampai SD, gue suka banget nonton MTV, entah kenapa. Dan ketika gue denger lagu Playground Love di film ini, gue sontak kaget karena gue pernah dengerin lagu ini di MTV pas gue masih kecil! Gak tau lagunya? Nih gue kasih video clipnya yang diambil dari film ini juga, sekalian menutup review ini;


"I'm a high school lover
And you're my favorite flavor
Love is all, all my soul
You're my playground love"

Overall, buat gue pribadi, film ini berhak mendapatkan score yaitu...


4 comments:

  1. Gue malah reaksinya biasa aja pas nonton ini dan ngerasa kurang greget sama plotnya, wkwk

    ReplyDelete
  2. Ikr, gue juga waktu pertama kali nonton film ini kayak lo juga kok reaksinya. Udah baca novelnya juga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba deh baca, kata gue sih bagusan novelnya daripada filmnya sebenernya. Tapi kalo lo coba nonton lagi abis lo kelar baca novelnya, bakal lebih ngena sih plotnya menurut gue. :)

      Delete