Wednesday, May 14, 2014

Godzilla (2014) Dual Review.



Jujur, gua gak pernah tau godzilla tuh ada banyak versi. Godzilla yang gua tau cuma godzilla 98 (iya, yang sampah itu) dan pas pertama kali gua nonton gua mikir "kok gak ada ultraman ya?". Dan pas denger godzilla mau dibuat lagi gua seneng karena bisa nonton monster gede yang menurut gua cuma bisa dikalahin sama ultraman ini dari layar lebar dan diberi kehormatan untuk monster legend karya Ishiro Honda.
Tresnayaka Review:

Godzillanya gendutan ya
Sinopsis:
Film dimulai dengen awal kemunculan godzilla pada tahun 50an dimana saat itu uji coba bom nuklir yang dilakukan america dan russia bukan semata uji coba tapi untuk membunuh sang godzilla. lalu film berpindah ke tahun 1999 dimana ketika ditemukan fosil godzilla di filipina dan settingnya berpindah ke jepang di mana ada kecelakaan pabrik yang menimpa joe brody (Bryan Cranston) dan menawaskan istrinya. merasa itu bukan sekedar kecelakaan biasa joe mencoba untuk menyelidiki penyebab kecelakaan itu. hal itu menyebabkan joe dianggap gila oleh anaknya sendiri (diperankan oleh Aaron Taylor-Johnson). Ford (nama anaknya joe) yang adalah anggota militer dan sudah mempunyai anak, mencoba untuk mengajak ayahnya untuk mencoba melupakan hal itu dan.............. Udah sampe disini aja sinopsisnya, takut spoiler.

Review:
Ada hal mengecewakan dari film ini yaitu perkembangan karakternya. Semua karakternya entah kenapa kayak gak niat main film (terutama kau Aaron Tayor-Johnson). gua cukup suka sama aktingnya si Bryan Cranston tapi yang awalnya gua kira karakternya joe brody tuh lead actor eh malah jadi supporting actor, udah porsi mainnya bentar banget lagi dan porsi lead actor-nya berpindah ke tangan anaknya ford. Serius, gua kecewa sama aktingnya ATJ. Mungkin, bagi kalian yang udah nonton liat nasibnya si ford itu sial banget kan? tapi peran itu kayak gagal diperanin sama ATJ menurut gua. Yang gua liat dari aktingnya si ATJ tuh cuma tentara tanpa ekspresi yang lari sana-sini doang (menurut gua loh ya, gak tau gua menurut kalian gimana). Pemeran pendukungnya pun juga mengecewakan. Dari Elizabeth Oslen yang berperan sebagai istri ford yang di film cuma muncul, ilang, muncul, ilang, muncul. Trus ada juga dua ilmuwan yang diperanin aktor-aktris yang pernah masuk nominasi oscar: Ken Watanabe sama Sally Hawkins yang gagal menghidupkan karakternya. Apalagi si Sally yang menurut gua cuma jadi cameo doang pas adegan si Ken (dia dikit banget dialgonya).

Terlepas dari kekurangan yang gua sebutin panjang lebar tadi. Godzilla masih mampu menampilkan kehancuran yang setara film-filmnya Roland Emmerich atau Michael Bay. Sutradara Gareth Edwards betul-betul mampu memanfaatkan budget raksasanya untuk nge-buat kehancuran yang keliatan sangat real. Dari Hawaii, California, Nevada, sampe San Fransisco hancur lebur kayak di film transformers 3. Dan selain itu si Gareth juga bagus mengatur tempo film dari awal munculnya keanehan sampe adegan battlenya yang melibatkan godzilla dengan begitu epic dan pas (SPOILER!!!!) godzilla nge-luarin semacam api biru dari mulutnya ke muka Muto tuh epic banget (SPOILER END!). 

Evolusi godzilla dari tahun ketahun
Overall: Gak seperti yang gua harapkan emang. Tapi, film ini tetep enjoyable dan durasi 2 jam gak bakal kerasa. Gak kayak film drama-romance yang dicampur sama kisah superhero laba-laba yang tayang 2 minggu lalu itu tuh....

Rate: 5 untuk akting para pemainnya. 9 untuk cerita, bentuk godzillanya, epic battle, dan epic mayhem. dan nilainya jadi:
...

...

...

...

7,0



Jika review diatas berdasarkan sudut pandang seorang dedek dedek random, maka review dibawah ini dari sudut pandang seorang sifu kaiju.




A.R Review.


sebaiknya lo dengerin Gojira Theme-nya Akira Ifukube sambil baca review gue.


Dan beginilah ekspresi gue pas tau themenya Akira Ifukube ga ada di film ini.


Tidak terasa selebritis reptil raksasa yang hobinya main ke Tokyo ini sudah berumur 60 tahun. Masa kecil gue melimpah dengan kenangan indah petualangan gue bareng Godzilla. Semua dimulai ketika gue masih 5 tahun di kota Banjarmasin, waktu itu gue terpikat sama sesuatu yang ada di toko CD, VCD Godzilla 2000. Murni karena sampulnya yang keren (Sampulnya Godzilla lagi bergelut lawan Orga) gue beli tuh vcd trus gue setel di rumah. Sejak hari itu, gue ngefans sama Godzilla. 

Saat Ishiro Honda membangkitkan 'Gojira' dari hibernasi panjangnya, dia mengamuk dan menghancurkan Jepang. (Ya jelaslah, siapapun kalo dibangunin paksa pasti kesel kan). Tapi sejak tahun 54', Godzilla kurang lebih jadi maskotnya Toho dengan menganut peran Anti-hero, menghancurkan bumi, tapi sekaligus jadi penyelamat bumi ketika dia bergulat lawan monster raksasa lainnya seperti Megalon, Gigan, Rodan, King Ghidorah, Biolante, Baragon, Megagurius, Mechagodzilla, Space Godzilla, Mothra, sampai si Ultraman gagal Jet Jaguar. (Kalian ingat Jet Jaguar??) 

JET-FUNKING-JAGUAR!
Ishiro Honda telah meninggalkan harta peninggalan berupa imajinasi sekuler yang menginspirasi jutaan anak-anak dalam wujud monster penghancur. Dan seperti yang ditulis junior saya Tresnayaka diatas; Godzilla ini bercerita seputar kisah Walter White dalam dimensi alternatif dimana dia jadi insinyur-conspiracy theorist bukannya guru sma-meth dealer, gagap berbahasa jepang, dan punya anak bandel yang dulunya sempat jadi sensasi youtube, Kick-ass. Saat tiba-tiba saja MUTO (Massive Unidentified Terrestrial Organism) lagi nafsu kawin nih, ketemu Godzilla yang kali ini ajaibnya sama sekali ga tertarik buat ngehancurin kota -____-








The good old Showa Days


Dari semua franchise blockbuster megahit, Godzilla lah yang paling memerlukan reboot, upaya cacat Roland Emmerich tahun 1998 sudah 16 tahun berlalu, dan sekarang saatnya move on, biarkan sang raja monster bangkit lagi dari tidurnya, terlahir kembali sebagai pembalasan alam kepada manusia dengan rasa modern.

Yang bikin gue rada emosi sama film ini ya adalah direksi si Gareth Edwards yang ngejadiin Godzilla sok-sok jual mahal, Yes! Godzilla baru nampak secara keseluruhan pas 3/4 durasi film! Ini ibaratkan lo udah disediain makanan dimeja makan, tapi ga boleh disentuh sampe satu setengah jam udah lewat. That's Preposterous!

Kelemahan yang mencolok pada godzilla terletak pada karakternya, karakter karakter di godzilla, baik utama maupun pembantu, sangat sangatlah mem-bo-san-kan. I mean, They're really made up of generic- default-uninteresting material! Karakter utama si Ford Brody, itu pahlawan kharismatik bermoral tinggi yang udah terlalu mainstream banget di layar lebar, Dr. Serizawa bisanya cuma bengong melotot terus ngasih oneliner-oneliner yang luarbiasa kece, Elle Brody (Elizabeth Olsen) is your typical hollywood MILF, ditambah karakter-karakter supporting yang forgettable ngebikin mereka hanyalah kutu bagi Muto & Godzilla. Satu pengecualian ya karakternya Bryan Cranston, si Joe Ford. Watak plus kepribadian si Joe ini menarik banget untuk diikuti, cuma sayang kurang jam tayang baginya.

Film ini berusaha supaya penonton bisa 'bonding' sama karakter karakter disini, dengan plotline klise "dari A ke B" dari sudut pandang Ford Brody yang berusaha mencapai San Fransisco, melewati berbagai macam rintangan di perjalanan agar bisa bertemu dengan keluarganya. Tentu saja ini akan menjadi melankolis sekali apabila karakter karakter disini ga begitu menjenuhkan. Jadi pas klimaks saat Ford pada akhirnya reunian sama keluarganya ya penonton ga merasa emosi apapun baik senang atau haru. "Ah peduli amat. masa bodo." Karena ya... kesalahan ada pada Gareth Edwards yang begitu menekankan sudut pandang manusia. Alasan penonton mau menyaksikan film ini bukan karena mereka mau nonton Ford Brody bertualang demi keluarga dia, Justru orang-orang rela bayar IDR 50.000 tiket bioskop demi ngeliat nama 8 alfabet yang tertampang jelas di judul film ini memporak-porandakan dunia!

"Jadi, apakah film ini layak di tonton?" Bero, tujuan utama lo nonton film ini kan mau liat monster raksasa saling hantam di metropolitan. Lo bisa dapetin hal itu disini. Finalenya buset, saking kerennya act terakhir bahkan bisa menetralisir semua hal negatif tentang film ini. Semua yang lo alamin, buildup selama 110 menit, akan terbayar lunas dengan aksi menggelegar yang memanjakan mata. Kerusuhan yang Godzilla sebabkan disini jadi ngebikin gue ingat sama game Godzilla tahun 2004; Godzilla Save The Earth!

kalo kalian pernah main game ini, maka masa kecil kalian bahagia
Kalo pernah main War of The Monsters pastinya bakalan familiar sama game satu ini. Karena ya basically ini adalah game yang sama cuma kalo Godzilla Save The Earth ini trademarked, lebih slow-paced dan berskala kolosal. Dengan mekanika gameplay asololejoss free-for-all, para monster-monster favorit seperti Godzilla, Angurius, Baragon, Rodan, Jet Jaguar dan lain-lain saling tarung di arena sandbox terbatas.

fatal 4 way matchup Megalon vs Godzilla vs Gigan vs Rodan

Cuma Godzilla yang berani by 1 lawan King Ghidorah
Bisa multiplayer, bisa online juga!

Ini Gigan lawan Destoroyah dan watermark IGN.com
......
huehuehue sori salah fokus tadi sebentar. Nostalgia masa cilik gue dulu.

To sum it up: 

Godzilla 2014, film monster yang rada prosaik di awal, namun betul-betul menghibur menjelang akhiran.



8 comments:

  1. well..jujur aja gw rada setuju sm koment penulisnya soal akting artis2nya yg di ksh nilai 5 setelah gw liat trailernya..gw bru mau liat bsok sih tp yg gw pengen liat kemunculan tu monster kyk gimana setelah "vakum"selama 16 tahun(1998-2014)jujur aja klo di bilang yg tahun 98 itu film "sampah"gw gak setuju ya..krn waktu jaman itu menurut gw bagus juga kok sampe sempet nonton 3 kali di bioskop..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Godzilla 98 kenapa gua sebut sampah karena godzilla 98 tuh 'menyimpang' dari versi yang jepang. Jujur, gua sih tetep menikmati pas nonton godzilla 98

      Delete
    2. Jujur ane liat godzilla 2014, mengapa serasa nonton Ultraman yah.. -_-

      Delete
  2. adegan paling mantap, pas itu duri2 mulai nyala2 biru, godzillagasmm

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh Spoiler gann! Tapi adegan Atomic Breath itu throwback banget~

      Delete
    2. dan spoilernya pun menjadi semakin jelas gan heheh

      Delete
  3. nih film kepanjangan dramanya,adegan perusakan,dan penga hancurannya cuma sekedar tempel sana tempel sini aja,semua karakter kurang tergali dengan baik,kurang ada klimaks di akhir film nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. ^ pretty much my review in a nutshell.

      Delete