Saturday, June 22, 2013

The Last of Us (2013) Playstation 3 Review



Tahun 2013 ini adalah tahun penghabisan bagi konsol generasi ke 7, Sebuah akhir dari era Playstation 3 & Xbox 360. Di tahun 'closing' inilah rilis game yang eksklusif untuk Playstation 3 dan merupakan salah satu game yang ditunggu-tunggu para gamer seluruh dunia; The Last of Us.




Mayoritas gamer seluruh dunia menggunakan konsol untuk bermain. Seperti yang gua bilang diatas, tahun 2013 ini adalah akhir era Playstation 3 & Xbox 360, karena requirements game-game yang baru-baru ini sudah mepet banget ke limit konsol generasi kini, bahkan beberapa game karena terlalu mutakhir jadi sering nge-bug di Konsol. Dan mungkin game-game yang akan datang udah ga sanggup lagi Xbox 360 & Playstation 3 nge-runnya, oleh karena itu developer jadi beralih ke PC gaming yang terus update. Sebelum hal itu terjadi, muncul lah Konsol generasi ke 8 yaitu Playstation 4 dan Xbox One.

Publisher publisher gaming mulai gempar-gempur ngepromo game game baru mereka untuk generasi ke 8. Sebut saja Konami dengan Metal Gear Solid V: The Phantom Pain, Ubisoft dengan Watch Dogs. Namun ada pula yang masih galau karena ini masa peralihan sekaligus masih sayang sama generasi 7 jadi mereka bikin game untuk 2 generasi sekalian. (Rockstar Games buat Grand Theft Auto V untuk platform PS3, PS4, Xbox360, & Xbox One)

KFG pribadi, menyarankan kalian untuk pilih Playstation 4 daripada Xbox One untuk generasi 8 ini, karena:
-Playstation 4 bisa main used games, Xbox One ga bisa. (jadi bisa aja saling minjem game sama teman)
-Playstation 4 ga perlu koneksi internet always on untuk main, Xbox One perlu. (ini isu berat bagi orang-orang indo yang koneksi internetnya payah. Kalo Internet lo lagi down, ya ga bisa main deh Xbox One)
-Spec Playstation 4 lebih tinggi daripada spec Xbox One
Gini deh. Xbox 360 laku karena game gamenya bisa bajakan, PS3 musti beli Blu-Ray Original. Nah Xbox One sekarang Blu-Ray juga gamenya! Pilih mana loe?




Gara-gara gempar gempurnya Playstation 4 & Xbox One, perhatian seluruh gamer terpusat sama dua itu, dan mengambil tindakan-tindakan tertentu, seperti nabung, merengek, atau ngejual konsol terdahulu mereka. Nah gue itu yang ngejual konsol terdahulu.. PS3 gue udah gue jual Februari lalu, game-gamenya kuberi untuk mbahdarmoOoO buat dijual, nih linknya kalo ada yang minat.
 http://kritikusfilmgadungan.blogspot.com/2013/05/jualan-kaset-ps3-seken-2013-review-aduh.html

Keputusan itu segera gue sesali karena kemunculan Magnum Opus dari Naughty Dog untuk konsol PS3, The Last of Us. Jadinya gue terpaksa main ke rental ps3 untuk main game satu ini! gua di rental itu dari pagi sampe malem namatin The Last of Us, melihat pengunjung rental silih berganti keluar masuk. Dari bocah ingusan, ABG bolos, sampe om om forever alone. Gua juga main game ini kurang fokus gitu karena abang-abang yang jaga rental, sama anak-anak ingusan nonton gua main The Last of Us (yah mungkin karena game ini jarang yang mainin di rental, orang orang semua main PES 2013 doang). "KAK! AWAS DIBELAKANG TEMBOK ITU ADA ZOMBIE!", "DARAHMU MAU HABIS", "LEWAT SINI, BUKAN LEWAT SITU", (sampe sampe adegan yang ngagetin kami semua teriak.) "UWAAAAAAAK!! MASYAALLAH!!" yah intinya rame gitu. dan gua habis sekitar Rp 100.000 udah termasuk Sprite dan indomie kuah 2.

Seperti yang diketahui, The Last of Us adalah game karya Naughty Dog yang terkenal belakangan ini berkat seri Uncharted mereka. Meski gua bukan fans berat Uncharted series (karena gua kurang suka platforming) tapi kita semua mengakui bahwa Uncharted series adalah salah satu seri game yang mendefinisikan generasi kini. Well The Last of Us ini walaupun sama sama eksklusif untuk PS3, jauh beda dengan Uncharted, Uncharted kan game action adventure petualangan platforming yang cerah dan hepi. The Last of Us ini adalah game yang suram, sadis, dramatis, sebuah drama survival horror, yang dibuat sedemikian rupa menyerupai sebuah film thriller Post-Apocalyptic.

Next Gen Graphics on Previous Gen Console


Rada rada seperti serial tv The Walking Dead gitu, The Last of Us ini menceritakan kehidupan umat manusia setelah kiamat ketika nyaris seluruh populasi manusia punah oleh karena infeksi virus jamur yang merubah orang yang terkena infeksi menjadi seperti zombie. Dimana sisa-sisa manusia yang selamat dari infeksi musti saling berseteru sesama lain demi bertahan hidup.

Kita bermain sebagai Joel, seorang tengah baya yang keras (agak agak mirip Daryl Dixon gitu) hidup di dunia yang telah hancur, Joel ditugaskan untuk mengantar anak perempuan berumur 14 tahun yang bernama Ellie kepada organisasi Fireflies karena Ellie adalah kunci keselamatan umat manusia.

Sequel eh prequel buatan Naughty Dog.


This game revolves around Joel and Ellie. Kalimat itu cukup merangkum game The Last of Us ini. Game Survival Horror dengan zombie memang sudah sering kita jumpai di pasaran. The Last of Us ini bukanlah game yang mengutamakan thrill dan shock anxiety sebagai elemen utama, itu hanyalah elemen pendukung di The Last of Us ini. The Last of Us menceritakan aspek kemanusiaan, bagaimana hidup manusia setelah jatuhnya peradaban, dan tentunya soal hubungan Joel dan Ellie.

Hubungan Joel dan Ellie ini seperti hubungan Lee dan Clementine dari The Walking Dead game. Hubungan yang cukup rumit, tengah-tengah antara Father-Daughter relationship dengan Mentor-Protege relationship. Joel adalah veteran soal kehidupan dunia distopia dan yang namanya saling bunuh, Joel hidup di dunia kita sekarang, dan saksi hidup kehancuran peradaban. Ellie adalah bocah lugu yang lahir setelah apocalypse, yang ia ketahui hanyalah kehidupan yang telah hancur akibat apocalypse, Ellie sama sekali tidak mengetahui apapun soal kehidupan manusia sebelum apocalypse (banter antara Joel & Ellie ini jadi elemen narrative yang bagus banget, mengisi suasana canggung saat perjalanan menuju checkpoint selanjutnya). Seiring perjalanan mereka berdua, Joel mengajarkan Ellie soal bertahan hidup, soal berburu, semua itu berjalan secara natural. Jadi kita player pun merasa "wow, i taught this kid everything" Joel (player) menjadi mentor Ellie yang semula  hanya berupa V.I.P yang musti di Escort, menjadi Wingman andalan.

Ellen Page and Hugh Jackman


Setiap landmark, setiap karakter sangatlah memorable. Along the way, Joel & Ellie tentunya bertemu sesama "survivor" entah kawan atau lawan. Jika Lawan, ya bunuh aja sebelum mereka ngebunuh elo. Jika kawan, maka team-up melawan rintangan yang ada. (kawanmu kadang-kadang juga bisa mati lho! jadi nambah tensi dramanya) Selain yang hidup, Joel dan Ellie juga bertemu yang 'Telah Mati' mereka yang terinfeksi (The Infected) adalah makhluk seperti Zombie yang mengerikan yang akan terus berburu mereka yang masih hidup.

Fuck this guy man!


Dari segi grafis, game ini luar biasa mengangkat limiter VGA game generasi kini. Honestly gua ga nyangka grafis kayak The Last of Us ini bisa di render di Playstation 3. Yang pasti hasil renderan game engine naughty dog ini mulus seperti paha Irish Bella~ Gedung-gedung ambruk yang telah diklaim oleh alam, Cipratan darah, hingga debu di udara baik in-game atau pas cutscene sungguh membuat PS3 rental ini serasa PS4.

Gameplay di The Last of Us ini bermacam-macam, karena kalo dibilang stealth ngga universal, interactive adventure kurang pas, dan kalo dibilang survival horror ga terlalu, game ini merupakan percampuran elemen-elemen tersebut. Ibaratnya Dead Space + The Walking Dead game + Fallout + Heavy Rain. Secara garis besar ada 3 cara lu selesaiin area biar sampe checkpoint.
1. Sikat musuh diam-diam
2. Full Frontal Assault ala Counter Strike
3. Nyelinap aja tanpa ngapa-ngapain
Tentunya A.I di game ini juga beradaptasi dengan cara pendekatan kita ini, jika kita milih nyelinap diam diam, Joel dan Ellie musti berhati hati kepada setiap hazard sekililing, karena bisa menjadi advantage atau disadvantage bagi player. Gue sendiri cuma gara gara nyenggol botol minuman sedikit, jadi bunyi dan musuh ngeliat gue, jadi terpaksa dia gue bunuh. Jika musuh yang udah di sikat diam-diam, lupa disembunyiin mayatnya, maka musuh yang nemu mayatnya akan waspada dan memburu kita yang sembunyi, dan kalo ketauan, mau ga mau kita Fight or die. Beralih ke Assault, selayaknya game akan berubah menjadi cover-shooter dimana musuh akan terus ngirim wave after waves of enemies sampai semuanya modar oleh kita.

Setiap musuh di game memerlukan pendekatan yang berbeda.. Saat berhadapan dengan manusia, player musti beradaptasi dengan keadaan, karena manusia bisa megang senjata, megang pisau atau melakukan strategi bersama kelompoknya, lain halnya dengan musuh Infected yang ga punya otak dan langsung frontal nyerang player. Awal-awalnya the infected ini bukan apa apa cuma berupa 'Runner' yang mirip Zombie yang sering kita liat di televisi, trus jadi 'Clickers' (bukan fans band Ungu) yang buta dan agresif, one hit kill kalo kena ni mah, dan makin jauh kita main, ada 'Bloater' strategi untuk yang satu ini adalah "kabur". Di The Last of Us ini  diberlakukan yang namanya context sensitive action, atau yang namanya Quick Time Events yang ada di Heavy Rain. Dimana player harus mencet-mencet tombol-tombol yang muncul di layar demi menghindari kematian.

Seiring berjalan cerita Joel akan mengumpulkan bahan-bahan makanan, amunisi, hingga bikin senjata aneh contohya pemukul baseball yang dipasangin paku. Semua berjalan di real time. jadi ga bisa yang namanya pause dulu kalo mau healing, Bisa aja lu pas modif senjata tiba tiba digigit clicker dan langsung gameover

Satu satunya yang kurang dari The Last of Us ini adalah upaya Naughty Dog untuk menghancurkan paradox "Unhelpful friend" yaitu dimana partner kita justru malah bikin repot daripada ngebantu (EHEM! SKYRIM! EHEM!) entah gara gara kebunuh duluan sama musuh karena begonya dia maju ala Leeroy Jenkins. Jadi Naughty Dog memilih nge ignore A.I friendly NPC ini dan fokus ke player character. Ini justru merusak ilusi horror gamenya. "WOY! KENAPA GUE TERUS YANG DISERANG?!" *padahal partner kita lagi jongkok tanpa perlindungan dibelakang mereka. Hilang deh strategi diversion gue.



The Last of Us tidak terasa seperti game. The Last of Us terasa seperti film berdurasi 17 Jam. Narrative aspect dari game ini terlalu bagus, Karakter-karakter yang bikin kita peduli, Set piece action yang unik dan keren. Motion Capture digunakan untuk nangkap ekspresi para aktor, dan tentunya Story yang penuh twist. dipadukan dengan Grafis mumpuni dan Gameplay asik.... Kurang apa lagi coba...

Recap, Naughty Dog telah mencetak gol. Gol ini dicetak dari tendangan salto, dari stadion berbeda, dari luar kota, oleh Thiago Alcantara. Yes! The Last of Us is THAT GOOD! The Last of Us ini mengukuhkan posisinya sebagai bukan sebagai salah satu game terbaik tahun ini, bukan game terbaik PS3, tetapi The Last of Us layak masuk jejeran All Time best. This Game is a Masterpiece.

Naughty Dog harus diberi applause oleh karena memberi Playstation 3 "a beautiful farewell gift"




11 comments:

  1. ane masi main nih....gamenya panjang dan emang asik....wah gawat nih kalau ps3 bakal game over...ayo jirah ke ps4

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan dijual dulu PS3nya bero... Masih ada Grand Theft Auto V. Nyesel ane jual PS3 ane gara-gara GTA V.

      Delete
  2. wah........hebat banget!! satu hari aja dah tamat...!!!!
    ( MANTAP )




    kalo gue nggak punya ps3,jangankan PS3..................PS2 aja nggak ada!!!



    ReplyDelete
  3. meskipun ga main ini game tapi nonton si pewd main aja dah puas.. emang serasa nonton film..

    ReplyDelete
  4. Haaa.... sejak dari dulu liat Sinopsis game itu di suatu tempat, langsung jatuh cinta!
    gak mungkin aku bisa mainin ini, ps3 aja enggak punya... huehue
    andaikan ada yang versi PC nya (?)

    ReplyDelete
    Replies
    1. tidak ada versi pc gan, eksklusif utuk platform Playstation 3

      Delete
  5. Waaaaaak jadi pengen maeeeeeen... Karna gak bisa tegang dengan game kayak gini, ane tonton walkthroughnya di Youtube aja deeh...

    http://www.youtube.com/playlist?list=PLs1-UdHIwbo5MzTZwWfhL49b2hzvb-50E

    ReplyDelete