Tuesday, February 14, 2017

Beberapa film cinta-cintaan yang mungkin perlu ditonton di hari Valentine


Bagi yang merasa bingung ingin menonton film apa di hari valentine, ini ada beberapa masukan dari saya untuk mengisi hari valentine kalian. Bagi yang jomblo, tonton film-film ini, mungkin hati kalian akan ter-enyeuh, dan setelah terenyeuh, semoga bisa dapat pacar. Bagi yang sudah punya pacar, semoga film-film di sini bisa menghindarkan kalian dari tindakan zina saat berduaan di kamar kos (?). Anyway, itu yang biasa ribut valentine haram pada ke mana ya? 



Badai Pasti Berlalu (Teguh Karya, 1973)

Sampai sekarang masih menjadi film Indonesia terbaik yang pernah saya tonton. Gaya direksi Teguh Karya yang begitu melankolis beserta suara Berlian Hutauruk yang ‘ndalem’ berhasil membuat lupa dunia ketika menonton film ini. Konflik yang dihadirkan di film ini mungkin klise jika ditonton di abad 21, hanya saja klise tidak selamanya mesti jelek kok, klise itu ada karena klise ada. Setidaknya selain konflik nurani sepanjang durasinya yang membuat perasaan saya mrembes, ada satu pelajaran yang saya berhasil petik dari film ini: Jangan sampai terkena diabetes.




City Lights (Charlie Chaplin, 1931)

Kalau suatu saat nanti kalian bertemu dengan orang yang mengaku dirinya fans Charlie Chaplin, tapi tidak pernah menonton City Lights, dekatkan mulut kalian ke telinga orang itu dan bisikan kata ini ke telinganya: Anjing.




Blue Valentine (Derek Cianfrence, 2010)

Teman saya yang bernama Susi (ia laki-laki, nama panjangnya Rizki Susilo Utomo) curhat ke saya setelah menonton film ini. Biasanya teman-teman saya itu curhat ke saya masalah asmara, keluarga, nilai try out yang tak kunjung naik, lah ini curhat soal fim. "Anjing tim, filmnya bikin gw sampai pusing." Hebat kan film bisa sampai membuat seseorang seperti Susi sampai pusing? Film ini menceritakan  pasangan yang sudah sekitar enam tahun menikah, lalu kehidupan mereka terasa hampa, hampir belok ke arah kehancuran. Lalu di saat yang sama, film ini juga memberi bagian kilas balik di saat mereka masih belum menikah, yang memperlihatkan momen-momen bersama yang indah dan manis. Dua cerita itu berjalan beriringan menuju ke sebuah konklusi yang membuat hati saya ringsek saat selesai menontonnya. Saya selalu memiliki asumsi keji (karena saya waktu kecil pernah mengalami) bahwa saya yakin hampir dari semua anak-anak pernah ditanyai orang tuanya begini, “Kalau mamah papah cerai nanti kamu mau ikut siapa?” Pertanyaan memilukan itu kembali muncul  ketika saya menonton film ini. Ya, sesakit itu rasanya.



Eternal Sunshine of the Spotless Mind (Michael Gondry, 2004)

Tolong segera tonton film ini. Bagi saya, sudah Fardhu Ain hukumnya untuk menonton film ini minimal sekali sepanjang hidup, sama seperti setidaknya orang-orang harus merasakan main GTA: San Andreas sekali seumur hidup. Anyway, saya kasihan dengan anak-anak yang akan lahir 20-30 tahun lagi, mereka sepertinya tidak akan mengerti di mana keindahan game dewa persembahan Rockstar itu. "Papah kok suka San Andreas sih? Bagusan GTA X, pah." Aduh. (ini kenapa malah ngomongin GTA?).



The Graduate (Mike Nichols, 1967)

Film ini bisa saya samakan dengan Seven Samurai dan 2001: A Space Odyssey, yakni film yang melampaui jamannya karena ceritanya terlalu modern. Nichols, dengan hebatnya, bisa meramu cerita pop yang kalau didengar terkesan remeh, menjadi sebuah mahakarya yang polos namun berani. Jika kalian merasa, "yah, klise dong mas filmnya? sama romcom tahun-tahun 2000-an ke atas bedanya apa?" Wah, penghinaan! Penistaan! Bajingan! Biadab! (lah kok saya ngomongnya mendadak seperti habib?) Tonton saja sampai selesai. Shot terakhirnya, bung! shot terakhirnya! Lalu diiringi dengan The Sounds of Silence Simon and Garfunkel pula, wah, saya menyerah, ampun!



Casablanca (Michael Curtiz, 1942)

Saya bisa masuk neraka film kalau tidak memasukan film ini.



Before Midnight (Richard Linklater, 2013)

Kulminasi dan konklusi (tidak bisa disebut konklusi sih jika nanti Richard Linklater dapat pewahyuan kalau dia harus membuat installment ke-4) dari pahit-manis hubungan Jesse dan Celine sejak tahun 1995. Kekuatan film ini murni terletak pada dialog-dialognya yang jujur dan berani. Sejak kapan menonontoni pembicaraan dua orang yang saling mencinta bisa terlihat menarik dan menyentuh? Bila anda purist, tonton trilogi film ini 9 tahun sekali. Before Sunrise ditonton di tahun 2017, Before Sunset di tahun 2026, dan Before Midnight di tahun 2035. 



Amour (Michael Haneke, 2012)

Belum pernah, dalam sepanjang hidup saya, saya menonton film romance se-destruktif ini. Pengalaman menonton Amour mungkin bisa disamakan dengan pengalaman membaca 1984 atau mendengar Kid A untuk pertama kali. Haneke mengeksplor tema cinta lewat pasangan yang sudah lanjut usia. Jika cinta sering digambarkan secara berapi-api yang disertai pengorbanan saat berjiwa muda, lalu apa yang terjadi ketika semuanya sudah mulai rapuh? Hal yang paling menyakitkan menurut saya adalah ketika kita melihat orang yang kita kasihi menderita di depan kita, dan kita tidak bisa melakukan apa-apa selain mencoba meringankan penderitaannya, meskipun kita tahu, usaha kita tidak akan berpengaruh banyak. Murakami pernah menulis kalimat ini dalam Sputnik Sweetheart, "Wonderful things always come to an end." Dan lewat Amour, Haneke menggambarkan apa yang terjadi setelah masa-masa indah itu berakhir. Hal-hal yang terasa indah dan menyenangkan akan selalu berakhir dengan cara yang menyakitkan, dan hidup sepertinya memang akan selalu seperti itu. 



Chungking Express (Wong-Kar Wai, 1994)

Ada dua macam orang di dunia ini, mereka yang lebih suka In the Mood for Love, dan mereka yang lebih suka Chungking Express. Saya berada di kubu Chungking Express. Semua hal yang ada di film ini terlihat begitu menawan dan indah. Kamera yang bergerak kesana-kemari, lampu-lampu neon yang menampilkan nuansa vibrant, hingga karakter-karakternya yang berada di antara keramaian namun sebenarnya kesepian. Jika ada mesin penghilang ingatan, saya ingin sekali menghilangkan ingatan saya pernah menonton film ini agar bisa kembali merasakan pengalaman pertama menontonnya. Ya, semagis itu film ini bagi saya.



Punch-Drunk Love (Paul Thomas Anderson, 2002)

Ketika Adam Sandler mengucapkan kalimat, "I have a love in my life, it makes me stronger than anything you can imagine." di depan muka Philip Seymour Hoffman, film ini langsung menjadi film romance terbaik yang pernah saya tonton. Sekian.

0 comments:

Post a Comment