Saturday, April 2, 2016

Di Balik Kelambu (1983) Review



Film ini dibuka dengan adegan yang memperlihatkan aktivitas suami-istri Hasan (Slamet Rahardjo) dan Nurlela (Christine Hakim) di pagi hari. Hasan bersiap-siap untuk bekerja, sementara Nurlela mengurus anak-anak mereka. Apa yang membuat aktivitas Hasan dan Nurlela beserta anak-anaknya menarik untuk disimak adalah karena mereka masih tinggal bersama keluarga Nurlela. Tekanan dari ayah Nurlela yang mengharapkan sosok menantu ideal dari Hasan beserta campur tangan keluarga Nurlela terhadap bagaimana cara Nurlela mengurus anak membuat kedua pasangan ini tertekan setiap hari. Ketika film menampilkan adegan Hasan yang mengundurkan diri dari pekerjaannya dan menjadi supir taksi, dari sini cerita di film ini mulai bertambah rumit.

Apakah adalah suatu hal yang buruk apabila seorang anak terus tinggal di rumah orang tuanya? Di Balik Kelambu menampilkan realitas sosial yang hampir terjadi di mana-mana, yakni pasangan suami-istri yang terpaksa tinggal di rumah mertua karena masalah finansial. Gambaran tentang tinggal serumah dengan mertua mungkin masih dianggap aib karena secara tidak langsung, asumsi-asumsi bahwa sang kepala keluarga secara finansial tidak mampu membiayai kebutuhan papan bagi anak dan istri mulai muncul dalam pikiran banyak orang. Tekanan yang diakibatkan oleh gambaran negatif terhadap tindakan tinggal serumah dengan orang tua kian menjadi dengan ditambahnya intervensi oleh keluarga sang istri terhadap cara mengurus anak dengan baik dan benar. Ketika mertua selalu membandingkan Hasan dengan menantunya yang secara pekerjaan lebih bonafide dan selalu membandingkan cara mereka mengurus Nurlela kecil dengan cara Nurlela dewasa mengurus anak-anak membuat Hasan dan Nurlela memiliki impian yang sama, yakni ingin bebas dari tekanan yang ada dengan memiliki rumah sendiri. Bila Hasan dan Nurlela merepresentasikan pasangan suami-istri yang mengalami kondisi yang serupa, dan ingin memiliki rumah sendiri agar bisa terbebas dari segala macam tekanan dan intervensi yang ada, lalu tujuan untuk memiliki rumah sendiri sebenarnya apa? Jika tujuannya adalah agar bisa bebas dan independen, secara tidak langsung itu sama saja dengan melarikan dari tekanan, intervensi, dan konflik yang ada. Jika tekanan, intervensi, dan konflik itu terus terjadi, yang salah sebenarnya siapa? Mertua yang menuntut terlalu banyak? Atau menantu yang terlalu under-achiever dalam berkarir? Pertanyaan itu terus bergulir sepanjang durasi film ini berjalan, bahkan hingga ketika film ini berakhir.


Hal yang menarik dari film Teguh Karya adalah film-film beliau selalu menonjolkan kemampuan akting para pemainnya yang begitu membumi dan tidak artifisial sama sekali. Tengoklah akting Hasan yang meledak-ledak mendekati akhir cerita dengan seluruh keputusan yang telah ia pilih, atau raut wajah Nurlela yang menggambarkan perasaannya yang berkecamuk dengan segenap kegundahan yang ia miliki, atau tatapan mata seluruh keluarga Nurlela yang menatap Nurlela dengan tatapan kosong di salah satu adegan yang membuat teman saya, Fathur, berkata "ANJING! TAKUT GW TIMMMMMMMMMM" menjadikan Di Balik Kelambu sebagai sebuah karya sinema yang sama sekali tidak menghakimi para pemainnya. Segala macam tindakan beserta keputusan yang terjadi di film ini, seburuk-buruknya dan sebaik-baiknya, terasa nyata karena tiap manusia punya kelemahan. Hitam dan putih tidak dapat dirasakan lagi ketika semuanya digambarkan secara abu-abu, secara manusiawi.


Jika tiga tahun yang lalu saya sadar kalau masturbasi adalah aktivitas yang selama ini saya butuhkan, ketika film ini berakhir dan lampu bioskop kineforum dinyalakan, saya sadar kalau sinema seperti inilah yang saya butuhkan dari sinema Indonesia. Sebuah sinema di mana tidak ada sama sekali pretensi untuk menggurui penontonnya, sebuah sinema di mana tidak ada sama sekali usaha untuk mengotak-ngotakkan mana baik mana buruk, sebuah sinema di mana sinema itu tidak memberikan jawaban, melainkan mempertanyakan sebuah realitas sosial sambil memacu penonton untuk menemukan sendiri jawabannya. Jawaban yang hanya bisa didapat di luar gedung bioskop, di kehidupan tiap individu penontonnya, the personal truth.

0 comments:

Post a Comment