Thursday, July 19, 2012

American History X (1998) Review.


Mata gw sebenarnya letihnya sekali,karena sudah 8 jam ini gw ngepantengin layar laptop terus nunggu donlodan film gw kelar dari jam 12 siang tadi,apa sih yang bisa diharapkan dari kecepatan i-net provider bernama spidol yang nyatanya cuman bisa negeberikan kecepatan speed donlod 29.0 kbps,saya iri dengan A.R,si anak hotelan yang dirumahnya (atau hotelnya,bapaknya dia punya hotel), yang sampai 200/kbpsan kecepatan donlodnya,mengingat 8 jam itu waktu yang lama,so,why not untuk nonton beberapa film yang sudah mulai berdebu di dalem laptop gw,hari ini gw barusan nonton 2 film,Inglorious Basterds dan American History X,karena 1 dan 2 hal,gw lebih milih review American History X,bukan basterdnya tarantino,entah kenapa gw males review basterds mengingat endingnya yang terlampau anjing dan terlalu..."basterds"



AHX (disingkat,btw kok namanya malah terkesan kek si AHOK ya,wakilnya om baju kotak2) menceritakan tentang seorang neo-nazi gundul nan rasis bernama Derek Vineyard (Edward Norton),karena membunuh 2 orang negro yang berusaha mencuri mobilnya dengan cara yang sadis (sudah membunuh,dengan cara yang sadis pula),mau tidak mau,Derekpun menjalani hukumannya di penjara selama 3 tahun lebih,sang adik yang kesepian,Danny (Edward Furlong,btw ini kok sama2 edward ya namanya,biar pas dan nyatu kali ya chemistrynya sebagai kakak-adik) mulai mengikuti jejak kakanya sebagai seorang  neo-nazi ababil,ironisnya,sang kakak yang keluar dari penjara pun sepertinya terlihat bertobat dan berusaha melindungi sang adik agar tidak salah jalan dan tidak menjadi seperti dirinya yang nyaris rusak karena Derek sendiri adalah seorang pemimpin dan pendiri dari grup rasis neo-nazi kelompok KKK modern abad 20,mampukah sang kakak melindungi adiknya?










Dari awal film,kita melihat sosok Derek sendiri sebagai seorang Rasis-Badass yang lahir di keluarga yang tidak badass,hal itu tergambar jelas dari sosok Danny sang adik yang dari raut muka munafik Edward Furlong terlihat sebagai innocent teenager yang hormon2 gejolak2 hawa-nafsunya sedang naik turun,hal yang sangat kontras sekali berbeda dengan kakaknya sendiri,dan viewers sudah bisa menebak,akan terjadi konflik bacot-bacotan atau sayang-sayangan diantara mereka bedua,huehehehehe,dan film yang gw sangka bakal mirip The Schindler list dimana filmnya sendiri bahkan warna hitam-putih begini dijaman modern ternyata langsung terkejut dengan adegan berwarna yang muncul,ini menandakan bahwa saat kualitas gambar berubah menjadi hitam-putih,maka setting film adalah flashback masa lalu yang kadang dinarasikan oleh Derek maupun Danny,dimana saat kualitas gambar di film ada warnanya,berarti timelinenya waktu itu adalah present day,saya demen dah dengan konsep beginian yang jarang ditemuin,salah 1 film yang mencolok dengan switch warna yang paling memorable itu ya Mementonya si om Nolan.


Yang gw sukai dari film ini adalah karakternya yang benar-benar menonjol,sebenarnya plot yang diusung biasa banget,namun Derek sendiri merupakan versi Neo-nazi dari Alex DeLargenya A Clockwork Orange,Derek ngingetin gw akan Alex,dimana karakter Derek sendiri merupakan pribadi dan memiliki emosi dan kejiwaan yang sangat labil,first impressions gw pada Derek sendiri dari awal sama seperti first impression saya dengan Alex,i hate them both,karena karakter,perilaku,tindakan,dan sifat mereka terlalu buas,tidak natural,dan sangat tidak manusiawi,namun Derek sendiri berbeda dengan Alex,dimana tahapan sifat Derek sendiri ada 4 tahap,sebelum dia jadi rasis,sesudah jadi rasis,saat dipenjara,dan saat keluar dari penjara,dan jujur,transformasi sifat atau karekter Derek dari timeline acak itu ngebikin gw galau,dari awal gw udah terlanjur benci ama ini orang,namun mulai pertengahan sampai akhir,gw malah mulai merasa simpati,kasian,dan merasa iba terhadap Derek sendiri yang menjadi salah satu produk hancur dari society yang terlalu hipokrit.


karakter Danny sendiri (tuh diatas yang lagi ngeluarin asap jin tomang dari mulutnya) merupakan sosok Remaja yang memerlukan sosok panutan,ayah Danny sendiri sudah wafat,sehingga mau tidak mau,dia memanut kakaknya yang memiliki sifat anomali dan menyimpang,walaupun kakaknya masuk penjara,sang adik tetap sayang dengan abangnya,dan mungkin mengadopsi 40% sifat rasis dari abangnya,pada  nyatanya disepanjang film ini,Danny nyaris tidak pernah melakukan tindakan spoiler eh....i mean tindakan rasis seperti kakanya,,Danny membutuhkan sosok yang harus dia panut,ya,Derek lah sang kakak yang haus dia panut,dia ingin menjadi seperti kakaknya yang terlihat keren di kalangan white society tapi buruk dihadapan kalangan kaum negro,kakaknyasendiri merasa dia adalah orang yang tidak pantas dipanuti dan sudah bisa anda tebak,berbagai macam kalimat penyesalan Derek pun sering terucap di film ini,konflik batin antara abang dan adek dan maaf-maafan ala abang-adek pun seperti layaknya film family-drama akan sering terlihat di film ini.


hal yang gw sukai adalah pertobatan Derek dan proses transformasi doi dalem penjara,sayangnya pertobatan itu kurang dieksplor dan masih ada yang kurang,gak greget lah kalau boleh mengutip ucapan Yayan Ruhiyan di The Raid,plot juga bisa dibilang biasa aja,berbagai macam konflik gilalah yang ngebikin film ini terkesan memiliki unsur berat dan bikin penonton terharu,bicara terharu?,gw terharu dengan ending filmnya sendiri,lebih dari terharu malah,tapi shocking ditambah kagak ikhlas endingya dibegituin,dibilang shocking enggak,dibilang twisted engga juga,dibilang absurd?,kalo boleh bilang endingya terlalu sakit untuk dilihat dan terlalu hancur untuk diingat,sampe bikin perasaan gw campur aduk dalem hati antara mau bilang endingnya terlalu anjing atau bilang endingya amazing sekali,mungkin ente2 juga pasti pernah mengalami dilema seperti yang gw rasakan saat selesai menyaksikan sebuah film,saat melihat dimana sang jagoan dimakan monster dibagian ending (eg.The Curse of Komodo).

Terlepas dari plot yang kurang dan ada hal yang mengganjal,saya suka dengan film ini dan tidak ada alasan bagi saya untuk membencinya,drama paling sakit yang esktreme nan nearly-perfect berhasil membuat saya masukin film ini menjadi salah 1 favourite movie saya di mubi.com,pesan moral yang disampaikan di film ini ngena banget,dan mungkin bisa jadi renungan buat kita sehari2,dimana saat kita sedang berkelahi dengan orang tua kita,dimana kita bingung siapa yang salah atau siapa yang benar,atau saat sedang belajar disekolah tapi malas mencatat di papan tulis,menolak untuk diceramahi guru,memaksa orang tua untuk minta dibelikan iPhone,atau membolos ke game center ,pada saat-saat seperti itu,buatlah pertanyaan pada diri kita sendiri,pertanyaan seperti:"Apakah semua hal yang telah  kita lakukan selama ini,membuat hidup kita menjadi lebih baik?",saya ingat perkataan seseorang,saat mengakhiri sebuah tulisan,lebih baik tambahkan quotes di akhir tulisan biar terkesan sok2 nge-pro,mungkin saya akan menerapkan sistem quotes di blog ini disaat saya menulis review film.

 'We are not enemies, but friends. We must not be enemies. Though passion may have strained, it must not break our bonds of affection. The mystic chords of memory will swell when again touched, as surely they will be, by the better angels of our nature.' 


8.5 out of 10

ps:bagi fans cewek Edward Norton harap tenang,penampakan burung edward norton kemana-mana kok di film ini,huehehehehe

0 comments:

Post a Comment